Aseranews.com, Makassar – Komitmen membangun generasi Indonesia yang sehat dan berkualitas kembali diwujudkan melalui langkah kolaboratif. Korps PMII Putri (KOPRI) Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Sulawesi Selatan secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Sulawesi Selatan sebagai bentuk sinergi strategis dalam mendukung percepatan penurunan stunting melalui pemberdayaan kader perempuan.
Penandatanganan kerja sama tersebut menjadi fondasi lahirnya program Gerakan KOPRI Peduli Stunting, sebuah gerakan kolaboratif yang mengedepankan peningkatan kapasitas perempuan sebagai garda terdepan dalam membangun keluarga sehat. Program ini sudah diawali dengan Pelatihan Online Penguatan Pengetahuan Stunting yang terintegrasi dengan Program Sertifikasi Kader Posyandu, sebagai upaya mencetak kader-kader perempuan yang memiliki kompetensi, kepedulian, dan kemampuan dalam melakukan edukasi serta pendampingan kesehatan masyarakat.
Di tengah masih tingginya tantangan stunting yang menjadi perhatian nasional, KOPRI PKC PMII Sulawesi Selatan memandang bahwa penyelesaian persoalan tersebut membutuhkan pendekatan yang tidak hanya bersifat medis, tetapi juga sosial, edukatif, dan kolaboratif. Organisasi kepemudaan, khususnya organisasi perempuan, memiliki posisi strategis untuk menghadirkan perubahan dari lingkungan keluarga hingga komunitas.
Ketua KOPRI PKC PMII Sulawesi Selatan, Wahyuni Ayu Safitri, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan bentuk nyata transformasi gerakan KOPRI yang tidak hanya hadir sebagai organisasi kader, tetapi juga sebagai mitra pembangunan yang mampu memberikan kontribusi terhadap penyelesaian persoalan-persoalan strategis bangsa.
“Bagi kami, stunting bukan sekadar isu kesehatan, tetapi isu tentang masa depan peradaban. Anak-anak yang tumbuh sehat hari ini adalah pemimpin masa depan bangsa. Karena itu, KOPRI merasa terpanggil untuk mengambil bagian melalui gerakan yang terukur, berbasis ilmu pengetahuan, dan dilakukan secara kolaboratif bersama PKBI Sulawesi Selatan.”
Ia menjelaskan bahwa jaringan kader KOPRI yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan merupakan potensi besar dalam membangun gerakan sosial yang berdampak langsung di tengah masyarakat.
“Kami ingin kader KOPRI menjadi agen perubahan yang mampu hadir di tengah masyarakat, memberikan edukasi kepada ibu hamil, keluarga muda, remaja putri, hingga kader Posyandu. Melalui pelatihan dan sertifikasi ini, kami berharap lahir kader-kader perempuan yang tidak hanya memiliki kepedulian sosial, tetapi juga kompetensi untuk mendampingi masyarakat dalam upaya pencegahan stunting secara berkelanjutan.”
Program yang dilaksanakan ini tersebut dirancang berbasis kompetensi dengan mengacu pada standar nasional kader Posyandu. Peserta akan memperoleh pembelajaran mengenai kesehatan ibu dan anak, gizi keluarga, kesehatan reproduksi, pola pengasuhan, komunikasi perubahan perilaku, serta strategi pendampingan masyarakat. Di akhir pelatihan, peserta akan mengikuti evaluasi sebagai syarat memperoleh sertifikat kompetensi kader Posyandu.
Sementara itu, Direktur PKBI Daerah Sulawesi Selatan menyampaikan apresiasi atas inisiatif KOPRI PKC PMII Sulawesi Selatan yang dinilai mampu menghadirkan semangat baru dalam gerakan pemberdayaan perempuan di bidang kesehatan masyarakat.
“Kami melihat KOPRI sebagai organisasi perempuan muda yang memiliki energi, jaringan, dan semangat pengabdian yang luar biasa. Kolaborasi ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kapasitas kader di tingkat akar rumput sehingga edukasi mengenai kesehatan reproduksi, gizi, serta pencegahan stunting dapat menjangkau lebih banyak keluarga di Sulawesi Selatan.”
“PKBI percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari komunitas. Ketika kader-kader perempuan dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian, mereka akan menjadi penggerak utama dalam membangun keluarga yang sehat dan berkualitas. Karena itu, kami berkomitmen menghadirkan materi, pendampingan, dan penguatan kapasitas agar program ini memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat.”
Lebih lanjut, ia berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan semata, tetapi berkembang menjadi kemitraan jangka panjang dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat.
“MoU ini adalah awal dari perjalanan panjang. Kami berharap KOPRI dan PKBI dapat terus bersinergi dalam program edukasi kesehatan reproduksi, penguatan Posyandu, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, hingga advokasi kebijakan yang berpihak pada kesehatan keluarga. Kolaborasi seperti inilah yang dibutuhkan untuk melahirkan perubahan yang berkelanjutan.”
Melalui penandatanganan MoU ini, KOPRI PKC PMII Sulawesi Selatan dan PKBI Sulawesi Selatan sepakat membangun kerja sama dalam pelaksanaan pelatihan berbasis kompetensi, sertifikasi kader Posyandu, edukasi kesehatan reproduksi, kampanye pencegahan stunting, penguatan kapasitas organisasi masyarakat, serta berbagai bentuk pengabdian yang mendukung peningkatan kualitas hidup perempuan, anak, dan keluarga.
Gerakan KOPRI Peduli Stunting bukan hanya sebuah program, melainkan ikhtiar kolektif untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan tumbuh sehat, setiap ibu memperoleh akses terhadap pengetahuan yang memadai, dan setiap kader perempuan memiliki ruang untuk berkontribusi dalam pembangunan masyarakat.
Melalui sinergi ini, KOPRI PKC PMII Sulawesi Selatan menegaskan bahwa organisasi kader harus mampu hadir sebagai bagian dari solusi atas persoalan bangsa. Sebab membangun generasi yang sehat bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga panggilan seluruh elemen masyarakat untuk bergotong royong mewujudkan Indonesia Emas 2045.
“Menggerakkan Perempuan, Menguatkan Posyandu, Menjaga Masa Depan Bangsa. Bersama KOPRI PKC PMII Sulawesi Selatan dan PKBI Sulawesi Selatan, kita wujudkan generasi sehat, unggul, dan bebas stunting.”








