KHF II Perkuat Pelestarian Karst Maros-Pangkep melalui Kolaborasi Berbasis Masyarakat

banner 468x60

Aseranews.com, Maros — Karst Heritage Festival II (KHF II) menjadi ruang kolaborasi masyarakat dan berbagai pihak dalam memperkuat upaya pelestarian kawasan Karst Maros-Pangkep. Festival yang berlangsung pada 18–20 September 2026 di Dusun Lopi-Lopi, Desa Mangeloreng, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, tersebut mempertemukan masyarakat, pemerintah, peneliti, akademisi, pelaku budaya, komunitas, mahasiswa, hingga pegiat lingkungan.

 

Mengangkat tema “Hand and Foot Print”, KHF II mengangkat hubungan panjang antara manusia dan bentang karst. Jejak tangan dan kaki manusia prasejarah yang masih ditemukan pada dinding-dinding gua menjadi simbol yang kemudian dihubungkan dengan “jejak” masyarakat masa kini dalam menjaga alam, pengetahuan lokal, serta warisan budaya.

 

Festival ini tidak hanya menjadi agenda kebudayaan, tetapi juga ruang konsolidasi dan penyebarluasan pengetahuan mengenai nilai penting kawasan karst. Berbagai kegiatan dirancang untuk memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan yang memiliki nilai geologi, arkeologi, keanekaragaman hayati, dan kebudayaan.

 

Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX Sulawesi Selatan, Iswadi Makaraka, mengatakan penyelenggaraan KHF II merupakan bagian dari proses panjang yang mendapat dukungan melalui Dana Indonesiana–LPDP Kementerian Kebudayaan.

 

Menurutnya, dukungan terhadap kegiatan kebudayaan penting untuk memastikan pengetahuan mengenai warisan budaya tidak berhenti di ruang akademik maupun institusi, tetapi dapat berkembang bersama masyarakat yang hidup di sekitar kawasan tersebut.

 

> “Yang penting dari proses ini adalah bagaimana pelestarian kebudayaan dapat tumbuh bersama masyarakat, karena masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kawasan dan warisan budaya itu sendiri,” ujar Iswadi.

 

Apresiasi terhadap pelaksanaan KHF II juga disampaikan General Manager UNESCO Global Geopark Maros Pangkep, Dedi Irfan. Ia menilai festival menjadi salah satu pendekatan untuk mendekatkan pengetahuan mengenai geopark kepada masyarakat.

 

“Kami mengapresiasi kegiatan ini sebagai sebuah model pendekatan berbasis masyarakat yang efektif untuk penyebarluasan informasi. Pada saat yang sama, kegiatan seperti ini juga menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap proses revalidasi UNESCO Global Geopark Maros Pangkep,” kata Dedi.

 

Masyarakat Menjadi Bagian Utama

 

Keterlibatan masyarakat Desa Mangeloreng menjadi salah satu kekuatan utama KHF II. Warga tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi terlibat sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan festival, termasuk dalam penyediaan ruang kegiatan, kuliner, pertunjukan tradisional, serta berbagai aksi lingkungan.

 

Sekretaris Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Maros, Yusriadi Arif, yang hadir sekaligus membuka kegiatan, mengapresiasi kerja kolektif masyarakat dan panitia.

 

“Kami mengapresiasi ide, gagasan, dan kerja keras panitia bersama masyarakat. KHF II bisa berjalan karena ada semangat untuk bahu-membahu dan keterlibatan banyak pihak,” ungkap Yusriadi.

 

Kepala Desa Mangeloreng, Muhammad Darwis, berharap inisiatif yang telah dimulai melalui KHF II dapat terus berlanjut setelah festival berakhir.

 

“Kami berharap inisiatif KHF II yang sudah dilaksanakan di Desa Mangeloreng ini dapat diteruskan oleh warga bersama pemerintah desa. Kami juga berharap kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan setiap tahun di desa, sehingga manfaatnya semakin luas dan masyarakat semakin terlibat dalam menjaga potensi alam, budaya, dan warisan yang ada di Mangeloreng,” ujarnya.

 

Menurut Darwis, kehadiran festival memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenali kembali potensi lingkungan dan budaya yang dimiliki desa sekaligus membuka kesempatan bagi warga untuk terlibat langsung dalam upaya pelestarian.

 

Direktur Bumi Toala Indonesia, Basran Burhan, turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya masyarakat Desa Mangeloreng.

 

“Terima kasih kepada seluruh pihak dan para kolaborator yang telah terlibat. Terutama kepada warga desa yang sejak awal membuka pintu bagi panitia, menerima berbagai kegiatan, dan menjadikan kampung ini sebagai ruang bersama untuk belajar tentang karst dan kebudayaan,” ujar Basran.

 

Direktur Festival, Wa Ode Nur Ilmi Fauziah, menjelaskan bahwa KHF II bukan kegiatan yang dibangun hanya dalam tiga hari pelaksanaan. Festival merupakan puncak dari proses panjang yang telah berlangsung melalui berbagai kegiatan pra-acara.

 

“Prosesnya cukup panjang. Sebelum festival berlangsung, ada berbagai workshop persiapan, pertemuan, dan dialog intensif bersama masyarakat maupun para pihak. Jadi festival ini sebenarnya merupakan hasil dari proses belajar dan bekerja bersama yang sudah berjalan sejak tahap pra-event,” jelas Wa Ode Ilmi.

 

Dari Sungai, Leang hingga Panggung Kampung

 

Semangat kolaborasi dalam KHF II diterjemahkan melalui beragam kegiatan yang berlangsung selama tiga hari.

 

Pada hari pertama, festival diawali dengan aksi sosial donor darah bersama PMI Kabupaten Maros, pemeriksaan kesehatan gratis, perpustakaan keliling, serta aksi bersih sungai yang melibatkan masyarakat Desa Mangeloreng dan peserta festival.

 

Mahasiswa Arkeologi Universitas Hasanuddin juga menghadirkan kuliah lapangan. Sejumlah bincang komunitas membahas berbagai isu, mulai dari pengelolaan sampah, gerakan menuju nir-sampah, ekosistem karst, peran pemuda dalam transmisi budaya, hingga karst sebagai ruang kehidupan bersama.

 

Malam pembukaan menjadi ruang perjumpaan seni dan tradisi melalui pertunjukan Angngaru, Tari Paduppa, serta berbagai pertunjukan komunitas.

 

Pada hari kedua, peserta menjelajahi sejumlah situs prasejarah di sekitar Desa Mangeloreng. Diskusi publik digelar di ruang-ruang yang dekat dengan situs untuk membicarakan karst sebagai *living heritage*, publikasi hasil penelitian, advokasi lingkungan, seni cadas purba, artefak arkeologi, serta tantangan pelestarian kawasan.

 

Peserta juga mengikuti workshop eksperimental pembuatan alat batu dan permainan tradisional. Malam kebudayaan kemudian menghadirkan sejumlah kesenian lokal, antara lain Ganrang Bulo, Tari Mappadendang, Sinrilik, dan teater kampung.

 

Aspek pengelolaan lingkungan juga menjadi bagian integral dari festival. Tim nir-sampah melakukan pemilahan dan pencatatan sampah selama kegiatan berlangsung. Praktik tersebut sekaligus menjadi pembelajaran bahwa penyelenggaraan kegiatan publik dapat berjalan seiring dengan penerapan tanggung jawab ekologis.

 

Memasuki hari ketiga, pembahasan diarahkan pada sejumlah isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat karst, termasuk peran perempuan dalam kehidupan dan ketahanan pangan, pelestarian spesies endemik, etnobotani dan tanaman obat, hubungan sastra dengan krisis ekologis, hingga peluang pengembangan ekowisata berbasis komunitas.

 

Ibu-ibu Desa Mangeloreng turut mengambil bagian dengan menghadirkan kuliner tradisional Anggaru’ Dodoro. Sementara itu, pengunjung mengikuti workshop eksperimental gambar cadas menggunakan pewarna alami, eksplorasi ecoprint, serta berbagai permainan tradisional.

 

Rangkaian KHF II ditutup dengan pertunjukan seni dan berbagai ekspresi kebudayaan. Penutupan tersebut sekaligus menegaskan pesan utama festival bahwa pelestarian kawasan karst tidak semata-mata berbicara mengenai batuan, gua, atau tinggalan masa lalu.

 

Di balik bentang karst terdapat masyarakat yang terus hidup, mencipta, menjaga, dan mewariskan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, jejak manusia di kawasan karst bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari tanggung jawab bersama untuk menentukan jejak pelestarian di masa depan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *