
Langit menggantung kelabu di atas perbukitan Enrekang, Minggu siang, 22 Maret 2026. Di Dusun Datte, Desa Lembang, orang-orang duduk berbaris dalam suasana suka cita dan rasa syukur. Di hadapan mereka terbentang daun-daun jati yang disusun membentuk shaf, membentang rapi. Tak ada piring, tak ada sekat. Yang ada hanya tangan-tangan yang bersiap menyantap hidangan, bersama-sama.
Di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut, Dusun Datte seperti berdiri di ruang yang berbeda. Dari pusat Kota Enrekang, perjalanan menuju kampung ini memakan waktu antara 45 menit hingga satu setengah jam, melewati jalan berkelok dan tanjakan panjang. Lanskap pegunungan yang mengurungnya justru menjadi pelindung, menjaga adat tetap tinggal, utuh dan lestari.
Datte merupakan bagian dari wilayah adat Kaluppini, salah satu komunitas adat di Enrekang yang dikenal teguh merawat tradisi. Di sini, adat bukan sekadar cerita masa lalu. Ia hadir, dijalankan, dan diwariskan. Salah satunya melalui mettoto, sebutan bagi perayaan adat yang diisi dengan makan bersama menggunakan alas daun jati, yang oleh warga juga dikenal sebagai maballa.
Bagi masyarakat Kaluppini, mettoto bukan sekadar makan bersama. Ia adalah pesta, sebuah perayaan adat yang menandai rasa syukur, sekaligus ruang bertemunya warga dalam satu ikatan kebersamaan.




Tradisi ini telah hidup ratusan tahun dan menjadi bagian dari ritus sosial masyarakat Kaluppini. Ia umumnya digelar dalam kegiatan keagamaan maupun acara adat yang identik dengan jamuan makan besar, melibatkan seluruh warga kampung. Dalam pelaksanaannya, biasanya menyembelih sapi, kambing atau ayam dalam jumlah melimpah sebagai hidangan utama yang kemudian dinikmati bersama.
Kali ini, di Dusun Datte, mettoto digelar selepas Idul Fitri. Sebelumnya, warga melaksanakan Ma’bolo Pandan atau ziarah kubur, lalu dilanjutkan dengan mettoto. Warga menyebutnya sebagai waktu yang tepat untuk berkumpul, melangitkan doa-doa baik, saling menguatkan, sekaligus merayakan kebersamaan setelah hari raya.
Sejak pagi, aktivitas sudah dimulai. Warga berdatangan membawa beras. Di dapur sederhana di pekarangan rumah, laki-laki dan perempuan bekerja bersama. Kayu bakar menyala di bawah kuali besar. Daging diolah menjadi nasu cemba atau kadundung, masakan khas dengan bumbu rempah yang memberi aroma tajam dan segar. Asap tipis membubung, menyatu dengan udara pegunungan.
Sebelum makan dimulai, seorang pemangku adat—bilala—memimpin doa. Suara lirihnya mengalun, menandai peralihan dari kerja bersama menuju santap bersama. Setelah itu, para pattawa bergerak. Mereka membagikan nasi dan daging ke setiap orang yang telah duduk berbaris. Tugas ini hanya dilakukan pattawa, pekerjaan yang menuntut tenaga sekaligus tanggung jawab: memastikan semua kebagian.
Tak ada yang didahulukan, tak ada yang ditinggalkan. Dalam mettoto, kesetaraan bukan konsep, melainkan praktik.
“Tradisi ini sudah diselenggarakan turun temurun, ratusan tahun sebagai ungkapan rasa syukur dan ruang silaturahmi. Semua berkumpul, berdoa bersama, makan sama-sama,” kata Dulla, ditemui seusai mettoto di kediamannya, siang itu.
Di tengah kemudahan alat makan modern dan perubahan gaya hidup, praktik seperti ini pelan-pelan menghilang di banyak tempat. Namun di Datte, ia tetap bertahan. Bukan tanpa alasan. Tradisi ini bukan sekadar makan di atas daun. Ia adalah cara masyarakat menjaga hubungan dengan sesama, dengan alam, dan dengan nilai yang mereka yakini.
Dusun Datte, dengan akses yang tak selalu mudah dijangkau, justru menjadi penyangga tradisi. Di sinilah mettoto tetap hidup, dijalankan tanpa banyak perubahan. Warga tak sekadar melestarikan, tetapi juga merawatnya sebagai bagian dari identitas.
Di atas daun jati yang sederhana itu, tersaji lebih dari sekadar makanan. Ada ingatan, ada kebersamaan, dan ada cara hidup yang terus dijaga agar tak hilang ditelan waktu.







