Bayangkan sebuah warung kopi di sore hari. Tiga teman duduk di satu meja, mereka sesekali tertawa, tetapi perhatian mereka tertuju pada layar ponsel masing-masing. Secara fisik mereka berada di tempat yang sama, namun secara sosial mereka terpisah. Inilah yang disebut dengan phubbing, kombinasi antara ponsel dan pengabaian, yaitu kecenderungan untuk mengabaikan orang di sekitar demi smartphone. Walaupun terlihat sepele, dari sudut pandang sosiologi komunikasi, kebiasaan ini memperlihatkan pergeseran besar dalam car akita memahami kebersamaan.
Dalam komunikasi tatap muka, kita saling memberikan tanda-tanda kecil: tatapan muka, anggukan, dan jeda yang tepat. Melalui tanda-tanda itu, tersampaikan pesan tak tertulis, “saya di sini dan Anda berarti bagi saya”. Saat seseorang melirik ponselnya di tengah percakapan tanda-tanda tersebut hilang dan komunikasi pun terputus. (Rahmah, n.d.), yang melakukan wawancara dengan mahasiswa di kampus, melihat phubbing sebagai masalah sosial saat ini yang berdampak pada kualitas interaksi sosial. Ia berpendapat bahwa kecanduan terhadap ponsel, penggunaan media sosial, dan rendahnya kontrol diri dalam menggunakan gawai turut ikut serta pada masalah ini. Oleh karena itu, phubbing tidak hanya berkaitan dengan etika, tetapi juga merupakan tanda bahwa hubungan kita dengan teknologi semakin rumit.
Pada tingkat yang lebih luas, ponsel telah mengubah car akita saling berhubungan. (Basit et al., 2022) membahasa peran teknologi komunikasi smartphone dalam relasi sosial. Perangkat ini memang membuat yang berjauhan semakin lebih dekat, namun di sisi lain dapat menjauhkan yang dekat: semakin terhubung secara digital, kita bisa semakin kesepian secara emosional. Jika ruang percakapan seperti meja makan, teras, atau ruang tunggu terus digantikan oleh layar, yang hilang bukan hanya kedekatan, tetapi juga kebiasaan berdialog dan mempertimbangkan pandangan berbeda dengan penuh kesabaran.
Lalu, mengapa perilaku merugikan itu tetap ada? Jelas tidak adil jika kita menyalahkan ponselnya sebagai faktor utama. Herbert Blumer, dengan salah satu teorinya yaitu interaksionisme simbolik, yang mengemukakan tiga dasar utama: manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang dimilikinya, makna itu muncul dari interaksi dengan orang lain, dan makna tersebut terus diinterpretasikan ulang di dalam proses interaksi. Dalam pandangan ini, masalah phubbing tidak hanya akibat dari teknologi, tetapi karena kita bersama-sama memberi makna bahwa itu adalah hal yang wajar. Memeriksa ponsel saat berkomunikasi dianggap sebagai “hanya sebentar” atau “semua orang melakukan hal yang sama”, dan pandangan itu kita terima, baik sebagai pelakunya yang berdampak. Secara perlahan, tindakan yang dulunya dinilai tidak sopan menjadi kebiasaan yang tak lagi dipertanyakan.
Namun, masalah tersebut tidak hanya membawa dampak buruk. Di sis lain, memiliki kabar baik, karena makna terbentuk bersama, maka ia juga dapat diubah kembali. Perilaku ini tidak sepenuhnya di luar kendali kita. (Hafizah et al., 2021) menyelidiki perihal pengendalian diri dan komunikasi interpersonal terkait phubbing. Temuan mereka menunjukkan bahwa kemampuan untuk mengontrol diri dan menciptakan komunikasi yang sehat sangat penting dalam masalah ini, dengan keduanya dapat dilatih, baik oleh individu maupun lingkungan di sekitarnya.
Prosesn perubahan itu bisa dimulai dari sekitar kita. Anggota keluarga bisa sepakat untuk menjadikan meja makan sebagai area tanpa ponsel. Sementara itu, teman-teman bisa meletakkan ponsel di tengah meja dan menjadikan sebuah permainan: siapa pun yang menyentuhnya terlebih dahulu harus membayar tagihan. Orang tua perlu menyadari bahwa anak-anak belajar berinteraksi dengan cara meniru, bukan hanya melalui nasihat. Kalimat sederhana seperti “Bisa simpan ponselnya sejenak? Saya ingin mendengarkan ceritamu” sering kali lebih baik ketimbang ceramah panjang tentang risiko penggunaan gawai.
Interaksi tatap muka tidak akan sepenuhnya hilang, tetapi bisa menjadi semakin jarang jika tidak dijaga. Kehadiran adalah bentuk penghormatan paling mendasar, dan ini tidak memerlukan kuota dan sinyal. Mungkin pertanyaan yang semestinya bisa direfleksikan adalah bukan sekadar seberapa sering kita memeriksa ponsel, melainkan siapa saja yang abaikan setiap kali kita melakukannya. Karena di Seberang meja, selalu ada seseorang yang menanti untuk didengarkan.
Penulis :
Ira Limbong
Mahasiswa Universitas Negeri Makassar








