Penelitian tentang pendidikan di Provinsi Riau tahun 2023 menunjukkan jumlah sekolah dan murid meningkat, tapi kesenjangan akses masih ada di wilayah terpencil. Hal yang sama terjadi pada isu gender. Secara angka kita maju, tapi ketimpangannya masih nyata di sekitar kita.
Ketimpangan gender masih menjadi salah satu masalah sosial yang paling sering kita temui. Di masyarakat masih ada anggapan bahwa perempuan lebih cocok mengurus pekerjaan rumah tangga, sedangkan laki-laki sebagai pencari nafkah. Padahal, perempuan dan laki-laki sama-sama punya kemampuan untuk belajar, bekerja, dan ikut serta dalam kehidupan masyarakat.
1. Stereotip yang Masih Hidup di Sekitar Kita
Contoh paling nyata adalah label sehari-hari. Perempuan dianggap lemah sehingga kurang diberi kesempatan pada pekerjaan tertentu. Sebaliknya, laki-laki dianggap tidak boleh menangis dan harus selalu kuat. Ada juga anggapan bahwa jurusan teknik lebih cocok untuk laki-laki, sedangkan tata boga lebih cocok untuk perempuan. Stereotip seperti inilah yang tanpa sadar membatasi potensi seseorang.
2. Patriarki di Keluarga dan Kampus
Budaya patriarki masih sangat terasa di dalam keluarga, padahal peran perempuan sekarang sudah banyak berubah, apalagi di lingkungan kampus. Dari obrolan santai via WhatsApp dengan beberapa mahasiswi, mereka mengaku masih merasakan kuatnya aturan patriarki di keluarga sendiri. Harus berjuang menyeimbangkan peran sebagai diri sendiri yang ingin berprestasi dengan tuntutan keluarga. Ini menunjukkan pentingnya dukungan kesetaraan gender bagi perempuan di kampus.
3. Dampak Nyata pada Pendidikan dan Pekerjaan
Ketimpangan juga terjadi di dunia pendidikan dan pekerjaan. Perempuan yang ingin melanjutkan pendidikan atau mengejar karier terkadang menghadapi anggapan bahwa tugas utamanya adalah mengurus keluarga. Data BPS dalam publikasi Perempuan dan Laki-laki di Indonesia 2024 dari hasil Sakernas Februari 2024 dengan sampel 76.890 rumah tangga menunjukkan perbedaan partisipasi angkatan kerja antara laki-laki dan perempuan masih cukup tinggi.
4. Belajar dari Para Tokoh
Simone de Beauvoir dalam buku The Second Sex menyoroti bagaimana kemampuan perempuan melahirkan sering dipakai sebagai alasan untuk menempatkan perempuan di posisi bawah. Menurutnya, peran ibu itu penting, tapi harus menjadi pilihan sadar dan bebas, bukan paksaan budaya.
Sementara Raewyn Connell dalam bukunya Gender and Power menjelaskan bahwa maskulinitas tidak tunggal. Ada maskulinitas hegemoni yang dominan, ada yang lebih memilih cara damai, ada yang mendapat keuntungan dari status, dan ada yang termarginalkan. Artinya, sosok ideal tidak harus dilihat dari kasar atau agresifnya, tapi dari cara berpikir cerdas dan kemampuan melindungi.
5. Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Menurut saya, masalah utama ketimpangan gender bukan terletak pada perbedaan antara perempuan dan laki-laki, melainkan pada perlakuan dan kesempatan yang tidak adil.
Untuk menguranginya, keluarga dan sekolah harus membiasakan pembagian tugas secara adil. Masyarakat harus memberi kesempatan yang sama untuk belajar, bekerja, menyampaikan pendapat, dan mengambil keputusan. Pemerintah juga harus memperkuat aturan yang melindungi hak perempuan dan mencegah diskriminasi.
Kesetaraan gender bukan berarti perempuan harus lebih tinggi dari laki-laki atau sebaliknya. Kesetaraan artinya setiap orang punya hak, kesempatan, dan perlakuan yang adil tanpa dibatasi oleh anggapan gender.
Penulis:
Rosmiani
Mahasiswa Prodi Sosiologi Universitas Negeri Makassar








