Revolusi Bukan Konten, Perjuangan Bukan Pencitraan 

Andi Nur Salsabila
banner 468x60

Jujur, saya muak melihat begitu banyak orang berbicara tentang keadilan, tetapi ketika ketidakadilan terjadi di hadapan mata, keberanian itu justru sering berhenti pada kata-kata. Kita lantang menyuarakan perubahan, memenuhi ruang digital dengan narasi perlawanan, tetapi pertanyaan mendasarnya tetap sama: sejauh mana semua itu mampu mengubah keadaan dan membela mereka yang dirugikan?

 

Persoalan ini bukan hanya tentang satu organisasi atau kelompok tertentu. Ini adalah refleksi bagi seluruh organisasi kemahasiswaan, gerakan sosial, komunitas, dan elemen masyarakat yang mengaku memiliki kepedulian terhadap keadaan bangsa, khususnya di Makassar. Jangan sampai kita terjebak dalam kesibukan mengurus kepentingan internal, mempertahankan identitas, dan membangun citra, sementara ketidakadilan di luar sana terus berlangsung tanpa perlawanan yang berarti.

 

Saya memahami kekhawatiran bahwa suara kritis dapat tenggelam di tengah arus informasi dan kepentingan yang lebih besar. Namun, apakah itu alasan untuk berhenti bersuara dan bergerak? Justru di tengah situasi seperti ini, kita perlu membangun kesadaran bersama bahwa perubahan tidak cukup hanya mengandalkan unggahan, poster, atau pernyataan sikap. Media sosial penting sebagai alat penyebaran gagasan dan konsolidasi, tetapi jangan sampai ia menjadi ruang simulasi yang membuat kita merasa telah melawan, padahal kenyataan tidak pernah benar-benar kita sentuh.

 

Revolusi bukan tentang seberapa ramai perlawanan ditampilkan, melainkan seberapa kuat kesadaran kolektif diorganisasi menjadi tindakan nyata.

 

Mahasiswa memang memiliki tanggung jawab historis dan sosial sebagai penyambung lidah rakyat, pengawal demokrasi, serta pengkritik kekuasaan. Namun, perjuangan melawan ketidakadilan tidak seharusnya dibebankan kepada mahasiswa semata. Buruh, petani, nelayan, masyarakat sipil, komunitas, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat memiliki kepentingan yang sama untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih adil. Perbedaan latar belakang, identitas, maupun organisasi tidak semestinya menjadi tembok yang memisahkan kita ketika persoalan yang dihadapi menyangkut kepentingan bersama.

 

Bersatu bukan berarti kehilangan perbedaan. Bersatu berarti menyadari bahwa ketidakadilan tidak dapat dilawan secara efektif apabila setiap kelompok hanya sibuk dengan kepentingannya sendiri.

 

Karena itu, saya percaya bahwa turun ke jalan tetap menjadi salah satu bentuk perlawanan yang penting. Bukan karena demonstrasi dapat menyelesaikan seluruh persoalan dengan sendirinya, melainkan karena keresahan harus diubah menjadi tuntutan, tekanan kolektif, dan keberanian untuk menantang kebijakan yang merugikan masyarakat. Perjuangan itu tentu harus dilanjutkan melalui kajian kritis, advokasi, pendidikan publik, pengorganisasian masyarakat, serta pengawalan terhadap tuntutan setelah aksi berakhir.

 

Yang menjadi persoalan bukan semata-mata siapa yang turun ke jalan dan siapa yang tidak. Persoalannya adalah ketika ketidakadilan berlangsung, tetapi tidak ada upaya serius untuk membangun kesadaran, menyatukan kekuatan, menyampaikan sikap, ataupun mencari jalan untuk membela mereka yang terdampak. Jika setiap kelompok merasa perjuangan cukup dilakukan dari ruangnya masing-masing, bagaimana mungkin kekuatan kolektif dapat terbentuk?

 

Kita juga perlu berani mengevaluasi budaya organisasi yang terkadang lebih sibuk dengan persoalan internal daripada tanggung jawab sosialnya. Kritik seharusnya tidak dianggap sebagai ancaman, perbedaan pendapat tidak semestinya diperlakukan sebagai permusuhan, dan jabatan tidak boleh menjadi alasan untuk menjauh dari tujuan perjuangan. Organisasi apa pun seharusnya menjadi ruang untuk membangun kesadaran dan kekuatan bersama, bukan sekadar tempat mempertahankan nama, kedudukan, atau kebanggaan kelompok.

 

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua orang harus memiliki cara perjuangan yang sama. Namun, kita perlu memiliki keberanian untuk bertemu pada satu titik, ketika ketidakadilan terjadi, keberpihakan tidak boleh berhenti sebagai slogan. Kita boleh berbeda strategi, berbeda pandangan, dan berbeda organisasi, tetapi perbedaan itu semestinya tidak menghalangi kerja sama dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

 

Indonesia tidak kekurangan orang yang mampu berbicara tentang perubahan. Yang perlu terus kita bangun adalah keberanian untuk mengubah pembicaraan menjadi kerja nyata, mengubah keresahan menjadi pengorganisasian, dan mengubah perbedaan menjadi kekuatan bersama. Jangan biarkan sekat organisasi membuat kita lupa bahwa di luar identitas masing-masing, ada masyarakat yang menghadapi persoalan nyata dan membutuhkan keberpihakan.

 

Pada akhirnya, perjuangan bukan panggung untuk membuktikan siapa yang paling revolusioner. Perjuangan adalah upaya kolektif untuk memastikan bahwa keadilan tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

 

Revolusi bukan konten. Perjuangan bukan pencitraan. Persatuan bukan kelemahan.

 

Jika kita sungguh-sungguh menginginkan perubahan, berhentilah menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk berjalan sendiri-sendiri. Mari membangun kesadaran, memperkuat solidaritas, dan menyatukan langkah melawan segala bentuk ketidakadilan. Sebab, perubahan yang berarti tidak lahir hanya dari mereka yang berani berbicara, tetapi dari masyarakat yang bersedia bergerak bersama.

 

 

Penulis :

Andi Nur Salsabila

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *