Anregurutta Nazaruddin Umar dan Harapan Warga NU Sulawesi Selatan

banner 468x60

Belakangan ini santer terdengar perbincangan di berbagai kalangan warga Nahdlatul Ulama bahwa Anregurutta Nazaruddin Umar disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat Ketua Umum PBNU pada Muktamar NU ke-35. Meski seluruh proses penentuan kepemimpinan NU sepenuhnya menjadi kewenangan para peserta muktamar, munculnya nama beliau telah menghadirkan optimisme dan kebanggaan, khususnya bagi warga NU di Sulawesi Selatan.

 

Sebagai ulama, akademisi, dan tokoh bangsa, Anregurutta Nazaruddin Umar telah menunjukkan dedikasi panjang dalam pengembangan pemikiran Islam, pendidikan, serta penguatan moderasi beragama. Kiprahnya tidak hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga memperoleh pengakuan di dunia internasional. Rekam jejak tersebut menjadi modal penting yang membuat namanya diperhitungkan dalam berbagai percakapan mengenai masa depan kepemimpinan NU.

 

Bagi warga NU Sulawesi Selatan, penyebutan nama beliau sebagai kandidat bukan sekadar persoalan representasi daerah. Lebih dari itu, hal tersebut menjadi kebanggaan karena putra terbaik Sulawesi Selatan dinilai memiliki kapasitas, integritas, keluasan ilmu, dan pengalaman yang memadai untuk memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia.

 

NU sendiri memiliki tradisi kepemimpinan yang dibangun di atas musyawarah, ukhuwah, dan penghormatan terhadap mekanisme organisasi. Karena itu, siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin PBNU adalah hasil dari proses yang harus dihormati oleh seluruh warga nahdliyin.

 

Apabila Anregurutta Nazaruddin Umar benar-benar memperoleh amanah sebagai Ketua Umum PBNU, tentu hal itu akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Kehadiran seorang putra daerah di pucuk kepemimpinan PBNU menjadi bukti bahwa kader-kader NU dari berbagai wilayah memiliki kesempatan yang sama untuk mengabdi kepada jam’iyah.

 

Namun demikian, kebanggaan tersebut hendaknya tidak berubah menjadi sikap yang mengedepankan sentimen kedaerahan. NU sejak awal berdiri adalah rumah bersama seluruh warga nahdliyin tanpa membedakan asal daerah, suku, maupun latar belakang. Yang utama adalah kualitas kepemimpinan, ketulusan dalam berkhidmat, dan kemampuan menjaga persatuan organisasi.

 

Warga NU Sulawesi Selatan tentu berharap siapa pun yang memimpin PBNU kelak mampu melanjutkan tradisi ulama pendahulu dalam menjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah, memperkuat pendidikan, mengembangkan dakwah yang sejuk, serta membangun kemandirian organisasi.

 

Anregurutta Nazaruddin Umar memiliki pengalaman panjang dalam membangun dialog, memperkuat toleransi, dan mengembangkan pemikiran keislaman yang moderat. Karakter tersebut sangat relevan dengan tantangan NU di era global yang semakin kompleks.

 

Di sisi lain, Muktamar NU bukanlah arena kompetisi politik semata. Ia merupakan forum permusyawaratan tertinggi organisasi yang harus dijaga kemuliaannya. Karena itu, seluruh warga NU sebaiknya menyikapi berbagai dinamika menjelang muktamar dengan kedewasaan, saling menghormati, dan menghindari polarisasi.

 

Tradisi NU selalu mengajarkan bahwa jabatan bukanlah tujuan, melainkan amanah. Seorang pemimpin hadir untuk melayani jam’iyah, bukan menjadikan organisasi sebagai sarana kepentingan pribadi ataupun kelompok.

 

Karena itu, jika nama Anregurutta Nazaruddin Umar terus menguat sebagai kandidat Ketua Umum PBNU, hendaknya hal tersebut disikapi sebagai bagian dari dinamika yang wajar dalam organisasi besar seperti NU. Dukungan dapat diberikan secara santun tanpa merendahkan kandidat lain yang juga memiliki jasa dan kapasitas.

 

Sebagai warga NU Sulawesi Selatan, rasa bangga terhadap sosok Anregurutta Nazaruddin Umar adalah sesuatu yang alami. Beliau merupakan salah satu ulama yang telah mengharumkan nama daerah sekaligus membawa kontribusi besar bagi kehidupan keislaman dan kebangsaan Indonesia.

 

Pada akhirnya, siapa pun yang terpilih sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar NU ke-35 diharapkan mampu menjaga persatuan jam’iyah, memperkuat khidmah kepada umat, dan melanjutkan perjuangan para muassis NU dengan penuh keikhlasan.

 

Jika amanah itu kelak jatuh kepada Anregurutta Nazaruddin Umar, maka warga NU Sulawesi Selatan tentu akan menyambutnya dengan rasa syukur dan bangga. Namun jika amanah diberikan kepada tokoh lain, tradisi NU mengajarkan untuk tetap taat kepada keputusan organisasi serta bersama-sama menguatkan langkah demi kemajuan Nahdlatul Ulama.

 

Dalam NU, kebesaran seseorang bukan semata karena jabatan yang disandang, tetapi karena keluasan ilmu, keteladanan akhlak, dan kesungguhan dalam berkhidmat. Itulah nilai yang selama ini diwariskan oleh para ulama pendahulu dan patut terus dijaga oleh seluruh warga nahdliyin.

 

 

 

Zaenuddin Endy

Komunitas Pecinta Indonesia, Nusantara, dan Ulama (KOPINU)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *