Nahdlatul Ulama didirikan bukan untuk menjadi ruang pertengkaran, melainkan menjadi rumah besar bagi umat Islam yang mengedepankan persaudaraan, kasih sayang, dan kemaslahatan bersama. Karena itu, pesan para pendirinya selalu menekankan pentingnya menjaga persatuan dan menghindari segala bentuk perpecahan yang dapat melemahkan jam’iyyah.
Salah satu pesan penting yang diwariskan oleh Hadhratussyaikh adalah ajakan agar seluruh elemen masyarakat masuk ke dalam Nahdlatul Ulama dengan hati yang penuh cinta. Beliau tidak hanya mengundang para ulama, tetapi juga para fakir miskin, kaum hartawan, rakyat jelata, dan orang-orang yang memiliki kekuatan serta pengaruh.
Dalam seruannya yang terkenal, Mbah Hasyim berkata, “Marilah anda semua dengan segenap pengikut anda dari golongan para fakir miskin, para hartawan, rakyat jelata dan orang-orang kuat, berbondong-bondong masuk Jam’iyyah yang diberi nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama ini. Masuklah dengan penuh kecintaan, kasih sayang, rukun, bersatu dan dengan ikatan jiwa dan raga.”
Pesan tersebut menunjukkan bahwa sejak awal NU dibangun di atas fondasi persatuan. Tidak ada sekat antara kaya dan miskin, antara yang memiliki jabatan dan yang tidak memiliki kedudukan. Semua dipandang sebagai bagian dari keluarga besar yang harus saling menghormati dan saling menguatkan.
Karena itu, sangat disayangkan apabila hari ini masih ditemukan warga NU yang gemar menghina sesama warga NU. Perbedaan pandangan yang seharusnya menjadi kekayaan organisasi justru sering berubah menjadi bahan permusuhan dan saling menjatuhkan.
Lebih memprihatinkan lagi ketika kritik yang disampaikan tidak lagi bertujuan memperbaiki keadaan, tetapi sekadar melampiaskan kebencian. Kritik yang kehilangan adab pada akhirnya hanya akan melahirkan luka dan memperdalam jurang perpecahan.
NU memang tidak anti kritik. Sejak dahulu para ulama NU terbiasa berdiskusi, bermusyawarah, dan bahkan berdebat dalam bingkai keilmuan. Namun semua itu dilakukan dengan tetap menjaga akhlak dan rasa hormat terhadap sesama.
Perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar dalam organisasi besar. Dengan jutaan anggota yang tersebar di berbagai daerah, tentu akan muncul beragam pandangan mengenai arah kebijakan maupun strategi perjuangan organisasi.
Yang tidak wajar adalah ketika perbedaan itu berubah menjadi kebencian. Ketika sesama nahdliyin saling merendahkan, saling memfitnah, dan saling menuduh, maka yang terluka bukan hanya individu tertentu, tetapi marwah organisasi secara keseluruhan.
Tidak sedikit pihak di luar NU yang berharap organisasi ini mengalami perpecahan. Karena mereka memahami bahwa selama NU tetap bersatu, NU akan tetap menjadi kekuatan sosial-keagamaan yang besar dan berpengaruh.
Ironisnya, terkadang ancaman terbesar justru bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam. Ketika rasa cinta kepada organisasi mulai tergantikan oleh ego kelompok dan kepentingan pribadi, saat itulah bibit perpecahan tumbuh dengan cepat.
Pesan Mbah Hasyim mengajarkan bahwa ber-NU harus dilandasi oleh mahabbah atau kecintaan. Cinta itulah yang membuat seseorang mampu menerima perbedaan, memaafkan kesalahan, dan tetap menjaga ukhuwah meskipun terdapat perbedaan pandangan.
Ber-NU dengan kedengkian sesungguhnya bertentangan dengan semangat yang diwariskan para muassis. Sebab kedengkian hanya melahirkan permusuhan, sedangkan NU dibangun di atas prinsip persaudaraan dan kasih sayang.
Sikap saling menghina atas nama kecintaan kepada NU juga merupakan kontradiksi. Tidak mungkin seseorang mengaku mencintai NU tetapi pada saat yang sama terus-menerus merusak persatuan dan kehormatan warga NU sendiri.
Jika ada hal yang dianggap kurang tepat dalam perjalanan organisasi, maka jalan terbaik adalah menyampaikannya melalui mekanisme yang baik, dengan bahasa yang santun dan niat yang tulus untuk memperbaiki keadaan.
Para ulama pendahulu telah memberikan teladan bagaimana berbeda tanpa bermusuhan. Mereka mampu menjaga persatuan meskipun memiliki pandangan yang tidak selalu sama dalam berbagai persoalan keagamaan maupun kemasyarakatan.
Menjelang berbagai agenda penting organisasi, semangat persatuan ini menjadi semakin relevan. NU membutuhkan energi untuk melayani umat, mengembangkan pendidikan, memperkuat dakwah, dan menjawab berbagai tantangan zaman, bukan menghabiskan tenaga untuk konflik internal yang tidak berkesudahan.
Karena itu, jika ingin melihat NU semakin kuat, semakin berwibawa, dan semakin dicintai umat, maka jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada pesan Mbah Hasyim: masuk dan berkhidmah di NU dengan cinta, kasih sayang, kerukunan, persatuan, serta ikatan jiwa dan raga. Sebab NU tidak akan besar oleh kebencian, tetapi akan terus kokoh oleh cinta yang diwariskan para pendirinya.
Zaenuddin Endy
Founder Komunitas Pecinta Indonesia, Nusantara, dan Ulama (KOPINU)








