Ketika Perempuan Dihapus dari Kemanusiaan yang Katanya Universal

Andi Nur Salsabila  Mahasiswa Perbankan Syariah UINAM
banner 468x60

Label “terlalu sensitif” kerap dilekatkan pada perempuan setiap kali mereka menolak candaan seksis, mempertanyakan bahasa yang merendahkan, atau mengkritik ruang diskusi yang eksklusif dan maskulin. Istilah ini tampak ringan, namun sesungguhnya berfungsi sebagai alat pembungkam. Dengan menyebut perempuan sensitif, persoalan dipindahkan dari substansi ketidakadilan menjadi sekadar urusan emosi individu.

 

Perempuan dianggap tidak cocok berada di tongkrongan atau ruang diskusi bukan karena argumennya lemah, melainkan karena kehadirannya mengganggu kenyamanan struktur yang telah lama mapan. Ruang-ruang yang mengklaim diri sebagai arena intelektual sering kali dibangun di atas standar maskulinitas: dingin, kompetitif, tahan hinaan, dan kebal empati. Siapa pun yang menolak norma ini, terutama perempuan, akan dianggap tidak rasional.

 

Di sinilah persoalan menjadi lebih serius: maraknya normalisasi kekerasan seksual yang bersembunyi di balik candaan. Pelecehan tidak lagi tampil sebagai tindakan kasar yang terang-terangan, tetapi menyelinap dalam humor, dalam obrolan santai, dalam “sekadar bercanda” yang terus diulang hingga dianggap wajar.

 

Topik-topik seperti “perawan” dan “perjaka” sering dijadikan bahan diskusi ringan, bahkan komedi. Tubuh dan pengalaman seksual seseorang dibuka, dinilai, dan diobjektifikasi tanpa persetujuan. Hal ini bukan sekadar obrolan biasa, ini adalah bentuk kekerasan seksual secara verbal. Ia merampas otonomi, merendahkan martabat, dan menempatkan individu sebagai objek penilaian publik.

 

Kekerasan seksual tidak selalu hadir dalam bentuk fisik. Ia juga hidup dalam bahasa: dalam cara seseorang dipermalukan, direduksi, dan dijadikan konsumsi sosial tanpa ruang untuk menolak. Ketika perempuan merasa terganggu oleh itu, mereka kembali dilabeli “baper”, seolah masalahnya ada pada perasaan, bukan pada tindakan yang merendahkan.

 

Simone de Beauvoir telah lama menjelaskan bahwa perempuan diposisikan sebagai “yang lain”, entitas yang keberadaannya selalu diukur dan dinilai. Bell hooks menambahkan bahwa patriarki bertahan melalui normalisasi kekerasan, termasuk kekerasan simbolik seperti ini. Sementara Judith Butler menunjukkan bahwa suara yang dianggap mengganggu justru menyingkap ketimpangan yang selama ini disembunyikan.

 

Maka, jawaban atas pertanyaan mengapa perempuan selalu dianggap terlalu sensitif menjadi jelas: bukan karena perempuan lemah, melainkan karena mereka menolak sesuatu yang telah terlalu lama dianggap normal. Label “sensitif” adalah mekanisme untuk melindungi kenyamanan mereka yang tidak ingin berubah.

 

Ironisnya, mereka yang gemar merendahkan perempuan sering kali adalah pihak yang paling alergi terhadap kritik. Mereka berbicara tentang kebebasan, tetapi hanya untuk diri mereka sendiri. Mereka mengklaim ruang diskusi, tetapi menutupnya bagi yang berbeda.

 

Solusi dari situasi ini tidak bisa dibebankan hanya pada perempuan. Namun, ada langkah yang bisa diambil: menyadari bahwa pengalaman tersebut bukan kesalahan pribadi, melainkan bagian dari struktur yang lebih luas; memperkuat literasi kritis agar mampu menamai bentuk-bentuk kekerasan yang terselubung; serta membangun ruang aman yang tidak menjadikan pelecehan sebagai norma.

 

Dan yang terpenting: menolak diam. Karena setiap penolakan terhadap candaan yang merendahkan adalah bentuk perlawanan terhadap budaya yang selama ini membungkam.

 

Sebab pada akhirnya, kemanusiaan tidak diukur dari seberapa bebas seseorang bercanda, tetapi dari seberapa jauh ia mampu menghormati sesama sebagai manusia.

 

Andi Nur Salsabila

Mahasiswa Perbankan Syariah UINAM

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *