Mahasiswa dalam Cengkraman Kekuasaan bernama Pendidikan

Andi Nur Salsabila  (Mahasiswa Jurusan Perbankan Syariah)
banner 468x60

Nawal el sadawi pernah memberikan fragment tentang ukuran pendidikan yang baik: “Good education means to create disobedience” atau ketika diartikan “pendidikan yang baik berarti menciptakan ketidakpatuhan”. Ketidakpatuhan dalam hal ini bermakna pendidikan harus mendorong serta menciptakan kreativitas pelajar dan menekankan pola pikir yang progresif.

 

Lalu, mari kita komparasikan dengan kampus hari ini yang benar-benar tidak lagi mencetak pemikir kritis. Ia lebih mirip mesin produksi kepatuhan, rapi, sistematis, dan penuh legitimasi akademik. Mahasiswa dididik untuk terlihat intelektual, tapi tidak untuk benar-benar cerdas, apalagi kreatif. Kritik diperbolehkan, selama tidak menyentuh hal yang esensial: kekuasaan, struktur, dan kenyamanan civitas akademik.

 

Di ruang kelas, mahasiswa dijejali teori kritis. Nama-nama besar disebut, konsep-konsep kebebasan dibahas, bahkan; wacana perlawanan dipelajari. Tapi semua itu berhenti sebagai pengetahuan belaka, sungguh malang mahasiswa hari ini. Begitu teori itu berusaha keluar menjadi kritik nyata, sistem langsung memberi sinyal: “Kamu prodi apa? NIM mu berapa?”

 

Fenomena ini bukan hal baru. Paulo Freire sudah lama mengkritik model pendidikan seperti ini sebagai “banking education” pendidikan yang hanya menjadikan mahasiswa sebagai tempat penyimpanan pengetahuan, bukan subjek yang berpikir. Dalam sistem seperti itu, mahasiswa tidak dilatih untuk memahami realitas secara kritis, tapi hanya untuk menerima, menghafal, dan mereproduksi kapital baru bagi para pemodal.

 

Mahasiswa yang patuh dianggap sebagai contoh ideal sedangkan yang terlalu banyak bertanya sering dilabeli tidak sok tahu. Lalu, yang kritis dianggap mengganggu stabilitas. Akhirnya, yang tersisa adalah generasi yang patuh terhadap akademik, tapi miskin secara mental untuk memiliki ide dan gagasan.

 

Organisasi kemahasiswaan? Jangan terlalu berharap banyak kawan! Banyak di antaranya hanya memperhalus pola yang sama dalam bentuk yang lebih “massif”. Mereka berbicara tentang perubahan, tapi alergi terhadap kritik internal. Mereka mengusung nilai demokrasi, tapi sering kali menjalankan praktik yang hierarkis dan tidak transparan.

 

Di dalam organisasi, loyalitas sering lebih penting daripada nalar. Kader yang patuh lebih cepat naik dibanding yang kritis. Forum diskusi berjalan, tapi sering kali hanya menjadi formalitas untuk mempertahankan citra intelektual. Kritik yang terlalu tajam dianggap tidak etis, bukan karena salah, tapi karena tidak nyaman.

 

Padahal, seperti yang ditegaskan oleh Nawal El Saadawi, salah satu bentuk penindasan paling halus adalah ketika manusia dibiasakan untuk menerima tanpa mempertanyakan. Penindasan tidak selalu datang dalam bentuk kekerasan terbuka, tapi bisa hadir dalam sistem yang membuat orang merasa “normal” untuk tidak berpikir kritis.

 

Dan di titik ini, kampus dan organisasi justru berperan dalam normalisasi itu.

 

Mahasiswa akhirnya terbiasa dengan satu pola yaitu: aktif, tapi tidak berisik. Kritis, tapi tidak menyentuh inti. Berani, tapi hanya dalam batas aman. Mereka dilatih untuk bermain dalam sistem, bukan untuk mempertanyakan sistem itu sendiri.

 

Ini bukan lagi soal kurangnya literasi atau minimnya ruang diskusi. Ini soal keberanian yang sengaja dipersempit. Soal bagaimana sistem lebih menghargai stabilitas daripada kebenaran. Dan yang lebih parah, banyak yang mulai menikmati posisi itu, merasa cukup dengan menjadi “intelektual” tanpa pernah benar-benar berisiko.

 

Hari ini, dimana sosok kakanda-kakanda yang dulu akrab disapa sebagai aktivis dalam dalam organisasi? Apakah mereka sudah terlalu nikmat dijilati oleh adinda-adindanya yang patuh dah hanya memiliki satu jawaban? “Siap kanda”. Ataukah harus menunggu moment project penerimaan mahasiswa baru untuk melihat yang katanya aktivis ini turun gunung? Sepertinya hubungan dalam organisasi bukan lagi wadah mengasah kreativitas melainkan hanya sebagai ruang kepatuhan kedua setelah kampus.

 

Kalau kondisi ini terus dibiarkan, maka betul pendidikan hanya akan melahirkan individu yang pintar cari jabatan, fasih berbicara, tapi kosong secara sikap. Organisasi pun tidak akan menjadi ruang gerakan, melainkan sekadar tempat latihan birokrasi dalam skala kecil.

 

Jadi, pertanyaannya bukan lagi apakah mahasiswa masih kritis. Tapi, apakah mereka masih layak disebut mahasiswa yang memiliki keberanian?

 

Karena tanpa keberanian untuk tidak patuh, semua obrolan dalam kampus maupun di warung kopi tentang perubahan hanya akan jadi rutinitas intelektual, sibuk, ramai, tapi hanya jadi pemanis bibir seperti ucapan dewan di dalam gedung-gedung mewah.

 

 

Penulis :

Andi Nur Salsabila

Mahasiswa Jurusan Perbankan Syariah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *