Jejak Puang Makka di Balik Masifnya Gerakan PKPNU Sulawesi Selatan

banner 468x60

Perkembangan Pengkaderan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) di Sulawesi Selatan sebelum diberlakukannya moratorium oleh PBNU merupakan salah satu fenomena yang patut dicatat dalam sejarah kaderisasi Nahdlatul Ulama di kawasan timur Indonesia. Dalam rentang waktu tersebut, pelaksanaan PKPNU berlangsung secara masif, menjangkau berbagai daerah, melahirkan banyak kader, serta memperkuat konsolidasi organisasi hingga ke tingkat akar rumput.

 

Masifnya gerakan tersebut tentu tidak lahir secara tiba-tiba. Di balik keberhasilan penyelenggaraan PKPNU yang menjangkau berbagai kabupaten dan kota, terdapat peran para ulama, tokoh, instruktur, dan penggerak yang secara konsisten memberikan arah dan motivasi. Salah satu figur yang memiliki kontribusi besar dalam proses tersebut adalah Syekh Abdurrahim Assegaf Puang Makka.

 

Sebagai putera dari Syekh Djamaluddin Assegaf Puang Ramma, Puang Makka mewarisi semangat perjuangan yang kuat dalam menjaga, mengembangkan, dan memperkokoh eksistensi Nahdlatul Ulama. Jejak perjuangan ayahandanya sebagai salah satu muassis NU Sulawesi Selatan menjadi fondasi yang membentuk pandangan dan komitmennya terhadap penguatan organisasi dan kaderisasi.

 

Dalam berbagai kesempatan, Puang Makka senantiasa mengingatkan bahwa kekuatan NU tidak hanya terletak pada besarnya jumlah jamaah, tetapi juga pada kualitas kader yang memahami nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah. Karena itu, kaderisasi harus ditempatkan sebagai jantung gerakan organisasi yang tidak boleh berhenti berdenyut.

 

Bimbingan beliau kepada para instruktur dan penggerak PKPNU tidak selalu berbentuk arahan formal. Banyak nasihat yang disampaikan dalam suasana kekeluargaan, melalui pertemuan-pertemuan sederhana yang justru meninggalkan kesan mendalam. Dari ruang-ruang itulah lahir semangat untuk terus bergerak dan menghidupkan kaderisasi di berbagai daerah.

 

Para penyelenggara PKPNU di Sulawesi Selatan merasakan bahwa kehadiran Puang Makka bukan sekadar sebagai tokoh simbolik. Beliau menjadi sumber inspirasi yang memberikan legitimasi moral terhadap gerakan kaderisasi yang sedang berkembang. Dukungan tersebut menumbuhkan rasa percaya diri bagi para kader untuk terus melakukan penguatan organisasi.

 

Tidak sedikit kegiatan PKPNU yang memperoleh perhatian langsung dari beliau. Bahkan ketika kondisi dan kesibukan tidak memungkinkan untuk hadir secara fisik, petunjuk dan doa beliau selalu menyertai perjalanan kaderisasi. Hal ini menjadi energi tersendiri bagi para panitia, instruktur, dan peserta.

 

Sebagai pewaris tradisi ulama, Puang Makka memahami bahwa kaderisasi bukan sekadar proses transfer pengetahuan organisasi. Kaderisasi adalah proses membangun karakter, menanamkan nilai, dan membentuk komitmen pengabdian. Karena itu, beliau selalu menekankan pentingnya akhlak, adab, dan keteladanan dalam setiap proses pengkaderan.

 

Di tengah berbagai tantangan organisasi, beliau juga mengingatkan agar kader NU tidak terjebak pada kepentingan sesaat. Kader harus memandang NU sebagai rumah besar perjuangan umat yang memerlukan keikhlasan, kesabaran, dan pengorbanan. Pesan-pesan inilah yang menjadi ruh dalam banyak pelaksanaan PKPNU di Sulawesi Selatan.

 

Masifnya penyelenggaraan PKPNU pada masa itu pada akhirnya melahirkan jaringan kader yang luas. Dari kota hingga pelosok desa, lahir kader-kader yang memiliki pemahaman dasar mengenai ke-NU-an, Aswaja, kepemimpinan, serta tanggung jawab sosial kemasyarakatan. Jaringan inilah yang kemudian menjadi modal penting bagi penguatan organisasi.

 

Keberhasilan tersebut tentu merupakan hasil kerja kolektif banyak pihak. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa peran ulama sebagai penuntun spiritual memiliki posisi yang sangat penting. Dalam konteks Sulawesi Selatan, Puang Makka menjadi salah satu figur sentral yang memberikan arah bagi gerakan tersebut.

 

Hubungan emosional beliau dengan sejarah NU Sulawesi Selatan juga memberikan makna tersendiri. Sebagai putera seorang muassis, setiap nasihat yang disampaikan bukan hanya lahir dari pemahaman intelektual, tetapi juga dari pengalaman sejarah yang diwariskan secara langsung dari generasi pendiri kepada generasi penerus.

 

Bagi banyak kader muda, sosok Puang Makka merupakan jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Melalui beliau, nilai-nilai perjuangan para pendiri NU dapat terus dipahami dan diterjemahkan dalam konteks tantangan zaman yang terus berubah.

 

Moratorium PKPNU yang kemudian diberlakukan oleh PBNU menjadi bagian dari dinamika organisasi yang harus dihormati dan dijalankan secara taat. Namun demikian, semangat kaderisasi yang telah tumbuh selama bertahun-tahun tidak dapat dihentikan oleh kebijakan administratif semata. Semangat itu telah berakar dalam kesadaran para kader.

 

Warisan terbesar dari gerakan PKPNU yang masif tersebut bukanlah jumlah kegiatan yang pernah dilaksanakan, melainkan lahirnya kesadaran kolektif bahwa kaderisasi adalah kebutuhan strategis organisasi. Kesadaran itu terus hidup dalam pikiran dan tindakan para kader NU di Sulawesi Selatan.

 

Dalam perspektif sejarah, nama Puang Makka layak dicatat sebagai salah satu ulama yang memberikan kontribusi penting dalam penguatan kaderisasi NU di Sulawesi Selatan. Peran beliau mungkin tidak selalu tampak di panggung-panggung besar, tetapi pengaruhnya terasa kuat dalam proses pembinaan kader di berbagai tingkatan.

 

Keteladanan beliau menunjukkan bahwa membangun organisasi tidak selalu harus dilakukan melalui jabatan formal. Pengaruh moral, kebijaksanaan, dan konsistensi dalam membimbing generasi muda sering kali jauh lebih berharga dibandingkan kekuasaan administratif yang bersifat sementara.

 

Oleh karena itu, ketika sejarah PKPNU Sulawesi Selatan ditulis secara utuh pada masa yang akan datang, maka bimbingan, pendampingan, dan petunjuk Syekh Abdurrahim Assegaf Puang Makka tidak dapat dilepaskan dari kisah keberhasilan gerakan kaderisasi yang begitu masif sebelum masa moratorium. Di balik tumbuhnya ribuan kader dan menguatnya semangat pengabdian, terdapat jejak seorang ulama pewaris perjuangan Puang Ramma yang terus menyalakan cahaya kaderisasi bagi Nahdlatul Ulama di Sulawesi Selatan.

 

 

Zaenuddin Endy

Founder Komunitas Pecinta Indonesia dan NU (KOPINU)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *