Jejak PKPNU di Sulawesi Selatan

Zaenuddin Endy Koordinator PKPNU Sulawesi Selatan
banner 468x60

Sejarah Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) di Sulawesi Selatan merupakan bagian penting dari perjalanan kaderisasi NU yang tumbuh dari semangat pengabdian, konsolidasi organisasi, dan ikhtiar membangun kader-kader ideologis yang mampu menjaga serta melanjutkan perjuangan para ulama pendiri Nahdlatul Ulama. Perjalanan tersebut tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang diawali oleh tekad sejumlah kader untuk menghadirkan sistem kaderisasi yang terstruktur dan berkelanjutan di Sulawesi Selatan.

 

Salah satu momentum penting dalam sejarah tersebut bermula ketika Zaenuddin Endy mendapat kesempatan mengikuti PKPNU IV yang diselenggarakan oleh PBNU di Rengasdengklok, Jawa Barat, pada bulan Desember 2012. Dalam kegiatan tersebut, Zaenuddin Endy hadir sebagai peserta utusan PW Lakpesdam NU Sulawesi Selatan yang dipercaya untuk mengikuti proses kaderisasi tingkat nasional.

 

PKPNU IV di Rengasdengklok bukan sekadar pelatihan biasa. Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan kader-kader NU dari berbagai daerah di Indonesia untuk memperdalam wawasan ke-NU-an, Aswaja An-Nahdliyah, kepemimpinan, manajemen organisasi, serta strategi pengembangan gerakan sosial kemasyarakatan berbasis nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

 

Selama mengikuti pendidikan tersebut, tumbuh kesadaran bahwa NU membutuhkan kader yang tidak hanya memahami sejarah dan tradisi organisasi, tetapi juga memiliki kemampuan menggerakkan organisasi secara sistematis. Dari sanalah lahir tekad untuk membawa model kaderisasi PKPNU ke Sulawesi Selatan agar dapat menjadi instrumen penguatan organisasi di tingkat wilayah, cabang, hingga ranting.

 

Sekembalinya dari Rengasdengklok, Zaenuddin Endy tidak menunda langkah. Ia segera melakukan silaturahmi dan sowan kepada Ketua PCNU Makassar untuk menyampaikan gagasan pentingnya menyelenggarakan PKPNU di Sulawesi Selatan. Gagasan tersebut mendapat sambutan positif karena dianggap sejalan dengan kebutuhan organisasi dalam menyiapkan kader-kader penggerak yang memiliki militansi dan kapasitas kepemimpinan.

 

Berbagai persiapan kemudian dilakukan secara intensif. Konsolidasi dengan pengurus NU, Lakpesdam, serta jaringan kader muda dilakukan untuk memastikan bahwa penyelenggaraan PKPNU pertama dapat berjalan dengan baik. Semangat kolektif tersebut menjadi modal utama dalam mewujudkan cita-cita kaderisasi formal NU di Sulawesi Selatan.

 

Puncaknya, pada tanggal 21–23 Mei 2013, PKPNU Angkatan I Sulawesi Selatan berhasil dilaksanakan di Asrama Haji Sudiang Makassar. Kegiatan ini menjadi tonggak sejarah penting karena untuk pertama kalinya kaderisasi PKPNU diselenggarakan secara resmi di Sulawesi Selatan dengan standar dan kurikulum yang ditetapkan oleh PBNU.

 

Pelaksanaan PKPNU Angkatan I memperoleh perhatian besar dari PBNU. Hadir secara langsung Dr. KH. As’ad Said Ali selaku Wakil Ketua Umum PBNU sekaligus Ketua Tim Kaderisasi PBNU. Kehadiran beliau menjadi bukti bahwa PBNU memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan kaderisasi NU di kawasan Indonesia Timur, khususnya Sulawesi Selatan.

 

Selain itu, kegiatan tersebut juga didampingi oleh tim instruktur nasional yang sangat berpengalaman, yaitu KH. Mun’im DZ, KH. Enceng Shobirin, dan KH. Adnan Anwar. Kehadiran para instruktur nasional memberikan warna tersendiri karena para peserta memperoleh materi langsung dari tokoh-tokoh yang terlibat dalam perumusan dan pengembangan sistem kaderisasi NU tingkat nasional.

 

PKPNU Angkatan I menjadi titik awal lahirnya gelombang kader penggerak NU di Sulawesi Selatan. Para alumni yang telah mengikuti pendidikan tersebut kemudian kembali ke daerah masing-masing dengan membawa semangat untuk memperkuat organisasi dan menyebarluaskan gagasan kaderisasi kepada generasi berikutnya.

 

Perkembangan PKPNU di Sulawesi Selatan semakin menunjukkan kemajuan ketika muncul kebutuhan untuk menyiapkan instruktur lokal. Kesadaran ini lahir karena semakin banyaknya permintaan pelaksanaan PKPNU di berbagai kabupaten dan kota, sementara jumlah instruktur nasional yang dapat hadir sangat terbatas.

 

Momentum penting berikutnya terjadi ketika tiga kader penggerak NU Sulawesi Selatan mengikuti Pendidikan Instruktur PKPNU yang diselenggarakan oleh PWNU Jawa Timur di Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif, Jombang pada tanggal 8-10 Maret 2019. Pendidikan tersebut menjadi langkah strategis dalam menyiapkan sumber daya kaderisasi yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

 

Tiga kader yang mengikuti pendidikan instruktur tersebut adalah Zaenuddin Endy, Kamaruddin Natsir, dan Asep Saifullah. Ketiganya mendapatkan pembekalan khusus mengenai metodologi kaderisasi, teknik fasilitasi, pengelolaan kelas, hingga strategi pengembangan jaringan kader NU yang efektif dan berkesinambungan.

 

Sepulang dari Jombang, gerakan PKPNU di Sulawesi Selatan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kehadiran instruktur lokal memungkinkan pelaksanaan kaderisasi dilakukan secara lebih luas, lebih sering, dan menjangkau berbagai wilayah yang sebelumnya sulit mendapatkan akses terhadap pendidikan kader NU.

 

Dari waktu ke waktu, hampir seluruh PCNU di Sulawesi Selatan mulai menyelenggarakan PKPNU. Kegiatan kaderisasi tidak lagi terpusat di kota-kota besar, tetapi menyebar hingga ke berbagai daerah, melibatkan kalangan pesantren, akademisi, aktivis organisasi, tokoh masyarakat, dan generasi muda Nahdliyin.

 

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa PKPNU telah diterima sebagai kebutuhan organisasi. Banyak pengurus NU menyadari bahwa penguatan struktur organisasi harus dimulai dari penguatan kualitas kader. Karena itu, PKPNU kemudian menjadi salah satu program yang paling dinantikan dalam agenda kaderisasi NU di berbagai cabang.

 

Dalam perjalanannya, gerakan PKPNU di Sulawesi Selatan berhasil melaksanakan hingga 39 angkatan. Capaian ini merupakan prestasi besar dalam sejarah kaderisasi NU di kawasan Indonesia Timur. Setiap angkatan melahirkan kader-kader baru yang siap menjadi penggerak organisasi dan pelayan umat di tengah masyarakat.

 

Dari seluruh angkatan yang telah dilaksanakan, diperkirakan sekitar 3.500 kader penggerak telah menjadi output PKPNU di Sulawesi Selatan. Mereka tersebar di berbagai profesi dan bidang pengabdian, mulai dari dunia pendidikan, pesantren, birokrasi, organisasi kemasyarakatan, hingga sektor sosial dan ekonomi masyarakat.

 

Kini, jejak sejarah PKPNU di Sulawesi Selatan tidak hanya tercatat sebagai rangkaian kegiatan kaderisasi, tetapi juga sebagai gerakan transformasi organisasi. Hampir setiap Ketua PCNU dan banyak pengurus NU di Sulawesi Selatan telah mengikuti PKPNU. Hal ini menunjukkan bahwa PKPNU telah menjadi salah satu fondasi utama dalam membangun kepemimpinan, menjaga kesinambungan perjuangan para ulama, serta memperkuat Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan dan sosial yang terus tumbuh, bergerak, dan mengabdi untuk umat, bangsa, dan negara.

 

Penulis :

Zaenuddin Endy

Koordinator PKPNU Sulawesi Selatan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *