Ungkapan seremonial seringkali menggaung di acara formal NU bahwa struktur organisasi sejatinya hanyalah sebagai wadah, sementara ruh atau nafas pergerakan adalah isinya. Dipertegas lagi bahwa kadangkala kita terlalu sibuk mempercantik wadah hingga lupa bahwa masyarakat di akar rumput sedang kehausan akan isi yang menyejukkan.
Opini publik sudah paham dengan ungkapan ini. Khidmah di dalam struktur NU bukanlah tentang meraih takhta di menara gading, melainkan tentang membangun jembatan menuju hati umat. Namun, hari ini kita perlu jujur menimbang, apakah struktur kita telah menjadi ekosistem yang menghidupkan, atau justru menjadi birokrasi yang membelenggu dan ummat merasa tercerahkan. Jangan sampai energi Jam’iyyah habis hanya untuk mengurus administrasi formalitas dan perebutan pengaruh sektoral, sementara warga di tingkat ranting (bahkan non-ranting) merasa yatim, bahkan yatim piatu secara ideologis.
Struktural yang sehat adalah yang mampu menambang dengan terbuka potensi kader di bawah, bukan yang hanya menunggu instruksi arahan dari atas. Kita harus mengkritisi kejumudan peran khidmah yang berlebihan karena hanya sebagai slogan formal (sekadar mengisi moment tertentu). Sebuah organisasi yang besar akan menjadi fosil sekadar menyimpan kritik sejarah yang berkepanjangan, jika ia berhenti berdialog dengan realitas zaman, utamanya dalam menggaungkan realitas fakta zaman global, namun lupa dengan peran substansial yang menyentuh peran lokalitas jam’iyyah di tingkat bawah.
Kepentingan struktural di NU sejatinya diletakkan di bawah kepentingan ishlahul ummah (perbaikan umat).
Perlu kiranya ada gerakan menyapa dan mencicipi ruh kultural NU dalam seduhan kopi sesuai selera jam’iyyah yang mungkin jadi tidak mau pusing, masa bodoh, apatis bahkan “de’ nalai sara” perihal ungkapan struktural ke-NU-an. Bilamana struktur adalah bangunan fisik kantor, papan nama, keanggotaan, hingga madrasah dan pesantren formal, maka sekali lagi kultural adalah hangatnya aroma kopi di teras rumah wargaNU, cafe-cafeNU hingga ruang-ruang PendidikanNU. Di sanalah NU yang sesungguhnya berada. Di sana, tidak ada sekat antara kiai dan santri, birokrasi dan non-birokrasi, tidak ada jarak antara pengurus dan warga jam’iyyah.
Kultural NU adalah tentang menyapa tanpa menghakimi, dan mencicipi pahit-getirnya kehidupan masyarakat jelata dan terpinggirkan. Kekuatan NU bukan terletak pada stempel dan kop surat, melainkan pada doa-doa yang dipanjatkan di surau terpencil, mesjid-mesjid yang tidak terurus dan diskusi-diskusi cair di warung kopi. Kita butuh kembali ke akar, menjadikan NU sebagai rumah yang inklusif, tempat di mana setiap orang merasa diakui kehormatannya tanpa harus memiliki kartu anggota namun idiologi ke-NU-an mengakar tertancap kuat di pohon-pohon yang tumbuh subur tanpa sentuhan peliharaan karena pupuk dan racun dengan merek yang beragam.
Sesunguhnya, menuju jam’iyyah yang bermartabat, sejatinya struktur dan kultur tidak boleh berjalan saling membelakangi. Struktur tanpa kultur akan menjadi kering dan otoriter. Kultur tanpa struktur akan menjadi liar dan tanpa arah. Perlu segera membangun kesadaran baru untuk menambang dan menimbang bahwa
struktural harus turun (tanâzul). Datanglah ke masyarakat bukan sebagai penguasa, tapi sebagai pelayan (khaadimul ummah). Kultural harus naik (tashâ’ud), menyambangi dan menyambut dengan penuh kehangatan. Tarikan nafas tanâzul wa tashâ’ud seakan menyatu tanpa sekat, namun terperas menjadi maqaasidus syari’ah li ishlahil ‘ammah wal ummah. Nilai-nilai luhur di akar rumput harus diangkat menjadi kebijakan organisasi yang progresif, menyentuh ranah yang tidak ada sekat batas primordial dan kejumudan peran masing-masing.
Menjadi warga NU yang terhormat bukan berarti merasa lebih mulia dari yang lain, melainkan menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi sesama, menjadi khaerah ummah. Sekali lagi, mari kita sruput kopi kultural ini dengan takzim, sambil terus memperbaiki konstruksi struktural kita agar tetap kokoh menaungi peradaban dan pluralisme ummat yang semakin butuh sentuhan keharmonisan dan kedamaian.
Waakhiran. Kolaborasi prestisius dan tendensius dengan hanya sekadar bertahan pola-pola rebutan manufaktur ke-NU-an segera ditinggalkan. Organisasi NU ini didirikan dengan tirakat yang panjang, jiwa dan darah perjuangan tanpa pamrih, hingga menembus langit supranatural yang sesungguhnya. Maka jangan dihancurkan dengan syahwat (kekuasaan). Biarlah struktur bekerja dengan logika yang presisi, namun biarkan kultur tetap bernapas dengan rasa yang manusiawi penuh hikmah dan kebijaksanaan. Menyapa umat dengan seruput kopi menghangatkan zikir, fikir dan amal shaleh.
Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamit Tharieq.
Penulis oleh : Muhammad Jufri
(Permerhati Kajian Struktural dan Kultural NU)








