IPR Sulawesi Selatan Turun menjadi 12,4, BNPT Ajak Masyarakat Perkuat Kearifan lokal dan Kewaspadaan Di Ruang Digital 

banner 468x60

Aseranews.com, Bogor– Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Selatan menggelar kegiatan Internalisasi Hasil Survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) Tahun 2025 melalui forum Kajian Senin Kamis (KSK), Kamis 25/6/2026.

 

Kegiatan ini menjadi sarana diseminasi hasil survei sekaligus memperkuat kolaborasi berbagai pemangku kepentingan dalam menjaga ketahanan masyarakat Sulawesi Selatan dari pengaruh radikalisme dan ekstremisme berbasis kekerasan.

 

Hasil Survei IPR Tahun 2025 menunjukkan capaian positif bagi Provinsi Sulawesi Selatan. Nilai Indeks Potensi Radikalisme tercatat sebesar 12,4, mengalami penurunan dibandingkan tahun 2024 yang berada pada angka 14,5. Penurunan terjadi pada dimensi pemahaman, sikap, dan tindakan, yang menunjukkan semakin menguatnya daya tangkal masyarakat terhadap paham radikal.

 

Dalam sambutan Direktur Pencegahan BNPT RI yang disampaikan oleh Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT, disampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari kerja sama berbagai pihak dalam membangun ketahanan masyarakat dan memperkuat nilai-nilai toleransi.

 

“Penurunan Indeks Potensi Radikalisme di Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa berbagai upaya pencegahan yang dilakukan secara kolaboratif telah memberikan hasil yang positif. Namun demikian, tantangan yang berkembang di ruang digital menuntut kita untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat ketahanan masyarakat, khususnya generasi muda,” ujarnya.

 

Peneliti FKPT Sulawesi Selatan menjelaskan bahwa salah satu kekuatan utama Sulawesi Selatan dalam menekan potensi radikalisme adalah kuatnya nilai-nilai budaya lokal, solidaritas sosial, serta peran tokoh agama dan tokoh masyarakat yang masih menjadi rujukan penting dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai seperti sipakatau (saling menghargai), sipakainge (saling mengingatkan), dan sipakalebbi(saling memuliakan) menjadi modal sosial yang memperkuat toleransi dan kohesi sosial di tengah keberagaman masyarakat Sulawesi Selatan.

 

“Kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat Sulawesi Selatan merupakan benteng sosial yang sangat kuat. Nilai saling menghormati, gotong royong, dan penghargaan terhadap perbedaan menjadi faktor penting yang berkontribusi terhadap penurunan indeks tahun ini,” jelas Peneliti FKPT Sulawesi Selatan.

 

Meski demikian, hasil survei juga menunjukkan adanya sejumlah aspek yang perlu menjadi perhatian bersama. Tingginya penggunaan internet dan media sosial, khususnya di kalangan generasi muda, membuka peluang masuknya berbagai narasi intoleransi, ujaran kebencian, hingga propaganda ekstremisme yang dikemas secara halus melalui berbagai platform digital.

 

Anggota Tim Reviu Survei IPR Tahun 2025, Lilik Purwandi, mengingatkan bahwa ancaman radikalisme saat ini tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dikenali. Menurutnya, paparan dapat terjadi melalui konten keagamaan yang tidak terverifikasi, komunitas digital tertutup, maupun algoritma media sosial yang memperkuat pandangan eksklusif.

 

“Kelompok yang perlu mendapatkan perhatian adalah generasi muda, masyarakat yang sangat aktif di media sosial, serta mereka yang intens mencari dan menyebarkan konten keagamaan di internet. Karena itu, literasi digital, moderasi beragama, wawasan kebangsaan, dan penguatan keluarga menjadi faktor uang sangat penting untuk memperkuat daya tangkal masyarakat,” ujar Lilik Purwandi.

 

BNPT dan FKPT Sulawesi Selatan mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap berbagai bentuk penyebaran paham radikal di ruang digital, tidak mudah menerima informasi tanpa verifikasi, serta terus mengedepankan nilai-nilai toleransi dan kebersamaan yang telah menjadi ciri khas masyarakat Sulawesi Selatan.

 

Penguatan literasi digital, pendidikan karakter, moderasi beragama, dan pengawasan penggunaan internet pada anak-anak menjadi langkah penting yang perlu dilakukan secara berkelanjutan oleh keluarga, sekolah, pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat.

 

Melalui kegiatan ini, BNPT dan FKPT Sulawesi Selatan menegaskan bahwa keberhasilan menurunkan Indeks Potensi Radikalisme harus menjadi momentum untuk memperkuat upaya pencegahan secara berkelanjutan. Dengan memanfaatkan kekuatan kearifan lokal dan kolaborasi multipihak, Sulawesi Selatan diharapkan dapat terus menjadi daerah yang aman, damai, toleran, dan tangguh menghadapi berbagai tantangan radikalisme di era digital.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *