Peringati Harlah 58 Tahun, Kopri PMII Rayon FUFP Gelar Dialog 

Pengurus Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) Rayon Ushuluddin Filsafat dan Politik Komisariat UIN Alauddin Makassar Cabang Gowa menggelar Dialog Hari Lahir Kopri ke 58 Tahun sekaligus memperingati 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan (HAKTP) di Warkop Mauco Kabupaten Gowa.
banner 468x60

Aseranews.com, Gowa – Pengurus Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) Rayon Ushuluddin Filsafat dan Politik Komisariat UIN Alauddin Makassar Cabang Gowa menggelar Dialog Hari Lahir Kopri ke 58 Tahun sekaligus memperingati 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan (HAKTP) di Warkop Mauco Kabupaten Gowa, Rabu 10/12/2025.

 

Kegiatan menghadirkan narasumber Sahabat – sahabat Awal Musqsith, Nurlira Goncing, Nurul Chaeria Rusli dan berbagai kader PMII Cabang Gowa.

 

 

Resky Fatmawati selaku Ketua Kopri Rayon FUFP mengungkapkan bahwa Di usia 58 tahun KOPRI hadir bukan sekadar merayakan usia, tetapi meneguhkan komitmen perjuangan.

 

“Kami mendorong terciptanya ruang aman bagi perempuan di berbagai lini dan menolak segala bentuk kekerasan berbasis gender. Rangkaian 16 HAKTP menjadi pengingat bahwa gerakan ini harus terus hidup sebagai budaya, kebijakan, dan aksi nyata. Semoga KOPRI tetap menjadi rumah yang menguatkan dan ruang yang memajukan perempuan dalam membangun peradaban.”tegasnya.

 

Novitasari selaku Kabid Kaderisasi Kopri PMII Rashul menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bukan hanya sebatas perayaan tapi hari diajak untuk merefleksi perjalanan panjang perempuan dalam sebuah organisasi.

 

 

“58 tahun kopri berdiri dengan segala macam dinamika yang kemudian mampu mendorong ruang aman, melawan kekerasan berbasis gender, dan refleksi perempuan dalam membangun peradaban. ini adalah alarm yang mengingatkan bahwa setiap perempuan berhak atas ruang yang aman untuk berproses, berekspresi, dan berargumentasi tanpa adanya rasa takut. selain itu, kita juga di ingatkan untuk terus menentang segala bentuk kekerasan terhadap perempuan, yang membuat perempuan merasa trauma atas tubuhnya. selaras dengan narasi yang sering lontarkan “ibu adalah madrasah pertama bagi seorang anak” jadi peran perempuan sebagai agen perubahan itu nyata dan tidak akan tergantikan”ucapnya.

 

 

Irdam Musa selaku Ketua Rayon PMII Rashul menyampaikan bahwa 58 tahun bukanlah usia yang singkat menjadi bukti bahwa KOPRI terus hadir, tumbuh, dan berjuang dalam membangun kesadaran perempuan untuk menjadi pemimpin, pemikir, dan penggerak perubahan. KOPRI telah menjadi ruang yang memperjuangkan kesetaraan, memberdayakan perempuan, serta menjaga marwah peradaban yang lebih adil dan berkeadaban.

 

“Di tengah tantangan dunia hari ini ketidakadilan gender, kekerasan terhadap perempuan, dan masih terbatasnya peran perempuan dalam ruang publik KOPRI hadir sebagai garda terdepan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi ruang bagi diskriminasi. Bahwa setiap perempuan memiliki hak yang sama untuk bersuara, untuk memimpin, untuk mengambil peran dalam sejarah bangsa”ucapnya.

 

Irdam juga mengungkapkan Sebagai kader PMII khususnya di Rayon Ushuluddin, Filsafat dan Politik, memiliki tanggung jawab moral yang besar. Bukan hanya merayakan harlah, tetapi juga meneguhkan komitmen perjuangan. Bahwa perempuan bukan sekadar simbol, tetapi subjek utama dalam gerakan intelektual dan sosial kemasyarakatan.

 

“Mari kita jadikan moment Harlah ke-58 ini sebagai pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Kita perlu terus membangun ruang yang aman, ruang yang kritis, dan ruang yang mendorong setiap kader perempuan untuk menjadi pemimpin masa depan bangsa”ungkapnya.

 

“Akhir kata, semoga KOPRI semakin progresif, semakin berdikari, dan semakin menjadi pelopor dalam perjuangan kesetaraan gender”,tegas Irdam Musa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *