Dari Kader Biasa ke Ruang Pengabdian: Perjalanan Salman di Ansor

banner 468x60

Perjalanan di Ansor bagi Salman bukanlah jalan singkat. Ia tidak hadir sebagai kader yang langsung berada di pusat perhatian, tetapi sebagai bagian dari barisan yang ditempa oleh proses, waktu, dan pengabdian. Ansor baginya bukan sekadar organisasi, melainkan ruang pembentukan karakter, tempat belajar tentang tanggung jawab, disiplin, dan makna khidmah.

 

Langkah awal Salman di Ansor dimulai dari tingkat daerah, berproses bersama kader-kader lain dalam dinamika cabang dan PAC. Dari ruang-ruang sederhana itulah ia belajar bahwa organisasi tidak dibangun oleh pidato besar, tetapi oleh kerja-kerja kecil yang dilakukan dengan konsisten: menggerakkan kader, menjaga soliditas, dan hadir di tengah kebutuhan masyarakat.

 

Proses itu membawanya dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua GP Ansor Kabupaten Enrekang selama dua periode. Di fase ini, Salman semakin ditempa dalam kerja-kerja organisasi, mulai dari konsolidasi struktural hingga penguatan kaderisasi. Ia belajar bahwa memimpin bukan soal memberi perintah, tetapi tentang menemani, mendengar, dan memastikan kader merasa memiliki rumah bersama dalam Ansor.

 

Di Banser, Salman melanjutkan prosesnya sebagai Kasatkorcab Banser Pinrang. Peran ini mengajarkannya tentang disiplin, loyalitas, dan kesiapsiagaan. Bersama Banser, ia turun langsung dalam berbagai kegiatan pengamanan, sosial, dan kemanusiaan, yang mempertemukannya dengan realitas lapangan serta kebutuhan nyata masyarakat.

 

Dalam salah satu fase pengabdian, Salman pernah berada pada situasi yang menguji nyali dan keteguhan sikap. Dalam kapasitas memimpin barisan, ia dan puluhan kader dihadapapkan pada situasi lapangan yang penuh tekanan, di mana semangat menjaga keutuhan bangsa dan nilai-nilai Pancasila benar-benar diuji. Dalam kondisi tersebut, keputusan tidak diambil dengan gegabah, melainkan dengan ketenangan, ketaatan pada komando, dan niat menjaga keselamatan serta martabat organisasi.

 

Dengan mengucap bismillah, Salman memilih berdiri di depan sebagai bentuk tanggung jawab, bukan untuk mencari sorotan, tetapi untuk memastikan kader tetap berada dalam koridor disiplin, etika, dan semangat kebangsaan. Kisah ini tidak banyak dibicarakan, namun menjadi bagian dari pembentukan mental kepemimpinan: berani mengambil tanggung jawab dalam situasi sulit, dengan kepala dingin dan niat menjaga kemaslahatan.

 

Kepercayaan kader kemudian mengantarkannya menjabat dua periode sebagai Ketua PC GP Ansor Pinrang. Dalam fase ini, tanggung jawabnya semakin besar. Ia tidak hanya mengelola struktur, tetapi juga membangun kultur organisasi: memperkuat kaderisasi, menjaga hubungan lintas elemen, serta memastikan Ansor tetap relevan dengan tantangan zaman.

 

Di tingkat wilayah, Salman dipercaya sebagai Kepala Asisten Rencana dan Pendidikan Latihan (Asrendiklat) Banser Sulawesi Selatan. Posisi ini semakin memperluas ruang pengabdiannya. Ia terlibat langsung dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pendampingan kegiatan diklat, serta pembinaan kader Banser di berbagai daerah. Kehadirannya yang intens di lapangan membuatnya dikenal sebagai sosok yang dekat dengan kader dan tidak berjarak dengan basis.

 

Perjalanan itu tidak berhenti di wilayah. Di tingkat nasional, Salman tercatat sebagai salah satu Kepala Biro pada Divisi Khusus Banser Tanggap Bencana. Pengalaman ini membentuk cara pandangnya tentang pentingnya kesiapan, kolaborasi, dan kepemimpinan yang tenang dalam situasi berbagai krisis.

 

Bagi Salman, seluruh proses ini bukan sekadar deretan jabatan, melainkan rangkaian pembelajaran. Dari kader biasa hingga dipercaya di berbagai level, ia memaknai setiap amanah sebagai bagian dari ikhtiar untuk menjaga marwah organisasi dan memperkuat khidmah Ansor kepada umat dan bangsa.

 

Kini, ketika Salman menyatakan kesiapan untuk maju dalam Konferwil GP Ansor Sulawesi Selatan, langkah itu ia niatkan sebagai kelanjutan dari proses panjang tersebut. Bukan sebagai puncak perjalanan, melainkan sebagai ruang pengabdian baru yang menuntut tanggung jawab lebih besar.

 

Dalam setiap fase, satu hal yang konsisten: Ansor membesarkannya melalui proses, dan proses itulah yang ingin terus ia jaga. Bagi Salman, kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling siap untuk melayani, menyatukan, dan menguatkan. Karena bagi kader yang ditempa oleh waktu, khidmah tidak pernah selesai, ia hanya berpindah ruang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *