Merawat Cahaya Kenabian di Pangkuan Ulama

banner 468x60

Ulama dalam tradisi Islam bukan sekadar sosok berilmu, melainkan mata rantai cahaya kenabian yang terus menyala dari generasi ke generasi. Mereka adalah penjaga makna, penafsir zaman, dan penuntun arah di tengah riuhnya kehidupan. Mendekati ulama sejatinya adalah mendekat kepada nilai, adab, dan hikmah yang diwariskan langsung dari Rasulullah SAW.

 

Dalam kehidupan umat, ulama hadir sebagai penyeimbang antara teks dan realitas. Ilmunya bukan hanya tersimpan dalam kitab, tetapi tercermin dalam laku hidup, kesederhanaan, dan ketulusan. Karena itulah, Islam mengajarkan adab khusus kepada ulama, bukan dalam kerangka kultus, melainkan penghormatan terhadap ilmu dan ketakwaan yang mereka jaga.

 

Mendekati ulama dengan hati yang bersih adalah sebuah ibadah batin. Duduk di majelis mereka, mendengar nasihatnya, bahkan sekadar menatap wajahnya dengan niat belajar, mengandung nilai spiritual yang dalam. Banyak ulama terdahulu meyakini bahwa keberkahan ilmu sering kali mengalir melalui adab sebelum materi.

 

Memeluk ulama dan mencium tangannya bukanlah simbol feodalisme, melainkan bahasa cinta dalam tradisi keilmuan Islam. Tangan yang dicium adalah tangan yang lelah menelaah ayat dan hadis, tangan yang basah oleh doa untuk umat, dan tangan yang menjaga ilmu agar tidak jatuh pada kesombongan.

 

Dalam hadis Nabi ditegaskan bahwa para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang besar. Hadis ini menempatkan ulama pada posisi mulia sebagai penerus misi kenabian, bukan dalam makna otoritas mutlak, tetapi dalam tanggung jawab moral dan spiritual.

 

Hadis lain menyebutkan keutamaan orang yang memuliakan ahli ilmu. Rasulullah mengajarkan bahwa bukan termasuk golongan beliau orang yang tidak menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan mengetahui hak para ulama. Ini menunjukkan bahwa memuliakan ulama adalah bagian dari etika keimanan.

 

Kedekatan dengan ulama juga merupakan upaya menjaga kejernihan agama. Di tengah derasnya informasi dan beragam tafsir instan, ulama menjadi kompas yang menjaga umat agar tidak terjebak pada pemahaman yang kering dari nilai-nilai hikmah. Mereka tidak hanya menyampaikan hukum, tetapi juga ruh di balik hukum.

 

Tradisi mencium tangan ulama tumbuh dari kesadaran bahwa ilmu bukan sekadar hasil kecerdasan, tetapi buah dari keistiqamahan dan kesucian niat. Dalam banyak kisah salaf, murid-murid besar justru dikenal karena adabnya yang tinggi kepada guru, bahkan sebelum kedalaman ilmunya diakui.

 

Niat menjadi kunci dalam setiap penghormatan. Ketika seorang murid mencium tangan ulama dengan niat mencari keberkahan, yang dicari bukanlah sosoknya semata, melainkan keberkahan ilmu dan doa yang menyertainya. Inilah dimensi batin yang sering luput dipahami oleh nalar modern yang serba simbolik.

 

Rasulutela sendiri memberi teladan penghormatan kepada ahli ilmu dan orang saleh. Dalam berbagai riwayat, beliau berdiri menyambut tamu terhormat dan memuliakan mereka, menunjukkan bahwa adab adalah bagian integral dari dakwah dan pendidikan.

 

Ulama sejati pun tidak pernah menuntut penghormatan. Mereka justru merasa takut ketika dimuliakan berlebihan, karena khawatir tergelincir pada ujub dan riya. Namun penghormatan umat tetap menjadi sarana turunnya rahmat, bukan bagi ulama semata, tetapi bagi masyarakat secara luas.

 

Dalam konteks sosial, mendekati ulama berarti menjaga mata air kebijaksanaan tetap hidup. Banyak konflik, kegaduhan, dan kekeringan etika lahir karena umat menjauh dari nasihat orang-orang berilmu dan lebih percaya pada suara gaduh yang miskin hikmah.

 

Hadis yang menyebutkan bahwa keutamaan ulama atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama atas bintang-bintang menegaskan betapa strategis peran ilmu dalam Islam. Ibadah tanpa ilmu berisiko melahirkan kekakuan, sementara ilmu tanpa adab kehilangan cahaya.

 

Pelukan kepada ulama juga merupakan pelukan kepada tradisi keilmuan Islam yang panjang. Di dalamnya ada sanad, ada kesinambungan, dan ada tanggung jawab sejarah. Tradisi ini menjaga agar Islam tidak tercerabut dari akarnya dan tidak tercerai dari nilai kasih sayang.

 

Mencium tangan ulama sejatinya adalah latihan kerendahan hati. Ia mengajarkan bahwa di atas pengetahuan kita selalu ada pengetahuan lain, dan di atas kecerdasan kita ada hikmah yang lahir dari pengalaman dan kedekatan dengan Allah.

 

Keberkahan yang diniatkan tidak selalu hadir dalam bentuk materi. Ia bisa menjelma ketenangan batin, kejernihan berpikir, atau kemampuan mengambil sikap yang bijak di saat sulit. Inilah buah halus dari kedekatan dengan orang-orang saleh.

 

Di tengah dunia yang makin menuhankan ego, mendekati ulama adalah upaya merawat kerendahan hati kolektif umat. Ia menjadi pengingat bahwa ilmu bukan alat untuk merasa lebih tinggi, tetapi sarana untuk semakin tunduk kepada kebenaran.

 

Mendekati ulama, memeluknya, dan mencium tangannya adalah ekspresi cinta kepada ilmu, adab, dan warisan Nabi. Selama niatnya lurus dan akalnya tetap kritis, penghormatan ini bukanlah kemunduran, melainkan jalan sunyi menuju keberkahan dan kedewasaan spiritual umat.

 

 

Oleh: Zaenuddin Endy

Komunitas Pecinta Indonesia, Nusantara, dan Ulama (KOPINU)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *