Tiga Kesadaran Perjuangan NU

Zaenuddin Endy Koordinator Instruktur Pendidikan Kader Penggerak NUsantara (PKPNU) Sulawesi Selatan
banner 468x60

Perjuangan Nahdlatul Ulama sejak awal kelahirannya tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia tumbuh dari dialektika zaman, berhadapan dengan berbagai kepentingan, ideologi, dan realitas sosial yang terus berubah. Dalam konteks inilah, pemikiran KH. Idham Chalid, mantan Ketua Umum PBNU, menjadi salah satu fondasi etis dan strategis yang relevan untuk dibaca ulang hingga hari ini.

 

Idham Chalid tidak memandang perjuangan NU sebagai gerak emosional atau reaksi sesaat terhadap keadaan. Ia menegaskan bahwa perjuangan harus bertumpu pada kesadaran, bukan sekadar keberanian. Kesadaran inilah yang menjadikan NU mampu bertahan, beradaptasi, sekaligus tetap setia pada jati dirinya sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah.

 

Kesadaran pertama yang ditekankan adalah sadar akan prinsip sendiri. Bagi NU, prinsip bukan sekadar slogan, melainkan fondasi teologis dan kultural yang bersumber dari Ahlussunnah wal Jama’ah. Tanpa kesadaran yang utuh atas prinsip ini, perjuangan mudah tergelincir menjadi pragmatis dan kehilangan arah.

 

Sadar akan prinsip sendiri berarti memahami secara mendalam nilai tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal. Nilai-nilai ini bukan hiasan wacana, tetapi pedoman sikap dalam menghadapi perbedaan dan konflik. Dari sinilah NU menjaga konsistensi antara akidah, fikrah, dan gerakan sosialnya.

 

Kesadaran kedua adalah sadar akan prinsip lawan. Idham Chalid mengajarkan bahwa lawan tidak boleh dipandang secara simplistik apalagi demonisasi. Setiap pihak memiliki basis nilai, kepentingan, dan cara pandang yang membentuk sikap mereka dalam ruang publik.

 

Dengan memahami prinsip lawan, NU tidak terjebak pada sikap reaktif dan emosional. Sebaliknya, NU mampu membaca arah gerak, mengenali batas perbedaan, serta menentukan titik dialog atau garis tegas yang harus dijaga. Inilah kecerdasan sosial-politik yang membuat NU tetap relevan di berbagai rezim dan zaman.

 

Sadar akan prinsip lawan juga melatih NU untuk bersikap adil dalam perbedaan. Perbedaan tidak selalu berarti permusuhan, dan persamaan tidak selalu menjamin kebaikan. Kesadaran ini menjadikan NU mampu membedakan mana perbedaan yang bersifat ijtihadi dan mana yang mengancam nilai dasar keumatan dan kebangsaan.

 

Kesadaran ketiga adalah sadar akan situasi dan kondisi. Idham Chalid memahami bahwa prinsip yang benar pun dapat kehilangan daya guna jika diaktualisasikan tanpa mempertimbangkan konteks. Oleh karena itu, membaca realitas sosial, politik, dan budaya menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan NU.

 

Sadar situasi dan kondisi berarti peka terhadap dinamika umat, negara, dan dunia. NU tidak memaksakan satu formula untuk semua keadaan, melainkan menyesuaikan strategi tanpa mengorbankan prinsip. Di sinilah fleksibilitas NU menemukan maknanya, bukan sebagai kompromi nilai, tetapi sebagai kecerdasan bertindak.

 

Ketiga kesadaran ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling menguatkan. Sadar prinsip sendiri menjaga identitas, sadar prinsip lawan membangun kewaspadaan dan keadilan, sementara sadar situasi dan kondisi memastikan relevansi. Tanpa salah satunya, perjuangan mudah pincang dan kehilangan keseimbangan.

 

Dalam praktiknya, tiga kesadaran ini menjelaskan mengapa NU sering tampak tenang di tengah kegaduhan. Ketika yang lain sibuk bereaksi, NU memilih membaca, menimbang, dan melangkah dengan penuh perhitungan. Sikap ini bukan tanda kelemahan, melainkan buah dari kedewasaan berorganisasi.

 

Warisan pemikiran Idham Chalid ini semakin penting di tengah polarisasi sosial dan politik yang kian tajam. Tanpa kesadaran yang utuh, organisasi mudah terseret arus kepentingan sesaat. NU justru dipanggil untuk kembali pada etos perjuangan yang berakar pada kebijaksanaan.

 

Tiga kesadaran tersebut adalah cermin dari karakter perjuangan NU yang beradab. Ia mengajarkan bahwa berjuang bukan sekadar melawan, tetapi memahami. Bukan hanya mempertahankan, tetapi juga menimbang. Dari sinilah NU terus berjalan, menjaga prinsip, membaca lawan, dan menyatu dengan denyut zaman tanpa kehilangan arah.

 

Wallahu A’lam Bissawab.

 

 

Oleh: Zaenuddin Endy

Koordinator Instruktur Pendidikan Kader Penggerak NUsantara (PKPNU) Sulawesi Selatan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *