Petta Jangko merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Soppeng yang namanya masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat hingga kini. Dalam berbagai sumber, nama beliau disebut dengan ejaan yang berbeda-beda seperti Petta Janggo, Petta Djangko, Puang Janggo, bahkan Datu Poleina. Terlepas dari perbedaan penulisan, semuanya merujuk pada figur yang sama, yakni seorang bangsawan sekaligus pejuang Islam yang disegani di Soppeng.
Kehadiran Petta Jangko terkait erat dengan periode transisi besar yang dialami masyarakat Sulawesi Selatan pada abad ke-17. Saat itu, Islam mulai diterima oleh kerajaan-kerajaan Bugis-Makassar setelah Kerajaan Gowa dan Tallo memeluk agama ini pada tahun 1605. Proses penyebaran Islam tidak berlangsung mulus, melainkan melalui jalur diplomasi sekaligus peperangan. Soppeng termasuk salah satu kerajaan yang akhirnya masuk Islam setelah melalui konflik dengan Gowa.
Dalam konteks tersebut, Petta Jangko menempati posisi strategis sebagai pemimpin lokal yang berperan menjaga kehormatan Soppeng sekaligus memperkuat identitas baru masyarakatnya. Ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang religius, pemberani, dan memiliki keteguhan hati dalam mempertahankan wilayahnya. Tidak mengherankan bila namanya kerap dikaitkan dengan perjuangan melawan hegemoni Gowa, serta hubungannya dengan tokoh besar lain seperti Arung Palakka dari Bone.
Menurut catatan lokal, Petta Jangko turut membantu Arung Palakka dalam menghadapi dominasi Gowa. Dukungan tersebut bukan sekadar ekspresi solidaritas politik, melainkan juga sebuah sikap keberpihakan pada cita-cita kebebasan kerajaan-kerajaan Bugis. Kecakapannya dalam strategi militer membuatnya dihormati bukan hanya di Soppeng, tetapi juga di mata sekutu-sekutu Bugis lainnya. Dengan demikian, ia menjadi bagian dari arus besar perlawanan Bugis terhadap Gowa yang berimplikasi luas pada sejarah Sulawesi Selatan.
Namun, Petta Jangko bukan hanya seorang pejuang perang. Ia juga dikenang sebagai figur yang mendalami Islam dengan baik, mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari, dan menegakkannya di tengah masyarakat. Sebagai bangsawan, ia memanfaatkan kedudukannya untuk memastikan bahwa agama yang baru diterima itu dapat menyatu dengan tatanan sosial dan budaya lokal. Sikap inilah yang membuatnya dihormati sebagai pemimpin spiritual sekaligus politik.
Jejak keberadaannya hingga kini dapat ditemukan pada kompleks makam yang terletak di Kelurahan Attang Salo, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng. Kompleks makam Petta Jangko tidak hanya berfungsi sebagai situs sejarah, tetapi juga sebagai pusat spiritual masyarakat. Di sana terdapat sekitar 12 makam dengan bentuk nisan unik menyerupai gada atau tombak, terbuat dari batu andesit hitam. Bentuk nisan ini menyiratkan simbol kekuatan sekaligus keteguhan, selaras dengan karakter sang tokoh.
Arsitektur makam Petta Jangko menunjukkan perpaduan antara estetika lokal dan simbolisme keagamaan. Garis-garis vertikal pada nisan mencerminkan kesederhanaan sekaligus keagungan. Ukuran makam yang bervariasi — besar, sedang, dan kecil — memperlihatkan adanya hierarki atau perbedaan status sosial dari mereka yang dimakamkan dalam kompleks tersebut. Hal ini memperkuat dugaan bahwa makam tersebut tidak hanya milik Petta Jangko, tetapi juga keluarganya dan tokoh-tokoh penting lain di sekitarnya.
Hingga kini, makam Petta Jangko menjadi tujuan ziarah yang ramai didatangi masyarakat. Tradisi ziarah dilakukan untuk memanjatkan doa, sekaligus memohon berkah berupa keselamatan, rezeki, maupun kesembuhan. Keyakinan masyarakat bahwa makam tersebut memiliki nilai keramat menunjukkan adanya kesinambungan antara tradisi pra-Islam dengan ajaran Islam yang diadaptasi secara lokal. Ziarah bukan hanya kegiatan spiritual, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap leluhur yang dianggap berjasa.
Fenomena ziarah ke makam Petta Jangko juga melahirkan aktivitas ekonomi baru di sekitar situs. Pedagang menjajakan bunga, air, maupun kebutuhan ritual bagi para peziarah. Kehadiran mereka menunjukkan bagaimana warisan sejarah dan spiritual dapat menjadi sumber penghidupan. Dengan demikian, makam ini memiliki fungsi ganda: sebagai situs religius sekaligus pusat ekonomi mikro bagi masyarakat setempat.
Dari perspektif sosial-budaya, jejak Petta Jangko menegaskan bahwa tokoh sejarah tidak hanya hidup dalam catatan lontara, tetapi juga dalam praktik keseharian masyarakat. Ingatan kolektif yang terus dirawat melalui ziarah, cerita turun-temurun, dan simbol-simbol material seperti makam, menjadikan sosok ini tetap hadir di tengah kehidupan warga Soppeng. Ia bukan sekadar tokoh masa lalu, melainkan bagian dari identitas budaya yang terus diwariskan.
Keberanian, religiositas, dan keteguhan hati Petta Jangko merefleksikan nilai-nilai luhur Bugis: siri’ (harga diri), pesse (solidaritas), dan getteng (keteguhan). Nilai-nilai itu bukan hanya prinsip moral, melainkan fondasi yang menopang eksistensi masyarakat Bugis hingga sekarang. Dalam konteks ini, Petta Jangko adalah simbol nyata dari integrasi antara Islam dan kearifan lokal.
Mempelajari jejak Petta Jangko berarti memahami dinamika sejarah Sulawesi Selatan, khususnya Soppeng. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara perlawanan politik dan pembumian Islam, antara tradisi lokal dan ajaran universal. Sosoknya memperlihatkan bahwa Islamisasi di Sulawesi Selatan bukanlah sekadar peristiwa religius, melainkan juga transformasi sosial, politik, dan budaya.
Jejaknya yang masih terpelihara hingga kini memberi pesan penting bagi generasi sekarang: bahwa perjuangan, keteguhan iman, dan penghormatan terhadap leluhur adalah fondasi untuk membangun kehidupan yang bermartabat. Melalui situs makamnya, masyarakat Soppeng terus mengingat dan meneladani sosok yang telah menorehkan jejak abadi dalam sejarah mereka. Petta Jangko bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga bagian dari jiwa kolektif Bugis.
Dengan demikian, warisan Petta Jangko menjadi pelajaran bahwa kekuatan sejati seorang pemimpin tidak hanya terletak pada keberanian di medan perang, tetapi juga pada kemampuannya menanamkan nilai dan meninggalkan teladan yang dapat terus hidup dalam memori masyarakat. Ia adalah saksi bahwa Islam di Bumi Latemmamala tumbuh dan berkembang bersama keberanian dan kearifan para pendahulunya.
Oleh: Zaenuddin Endy
Komunitas Pecinta Indonesia, Nusantara dan Ulama (KOPINU)







