Pada bulan Ramadhan yang lalu, saya berkesempatan mengantar putra saya ke Desa Mattabulu di Kabupaten Soppeng. Ia mendapat amanah untuk menjadi imam tarawih di salah satu masjid desa tersebut. Perjalanan itu mula-mula saya pandang sebagai tugas sederhana seorang ayah, sekadar memastikan anak tiba dan menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.
Namun, setibanya di sana, pengalaman itu perlahan berubah menjadi perjumpaan yang lebih dalam. Desa Mattabulu menyambut dengan lanskap perbukitan yang tenang, udara bersih, dan suasana yang jauh dari kegaduhan kota. Kesunyian itu bukan kehampaan, melainkan ruang refleksi yang menyimpan lapisan makna.
Di sela-sela percakapan dengan beberapa warga, saya memperoleh informasi tutur yang mengubah cara pandang saya terhadap desa ini. Ternyata, Mattabulu bukan hanya ruang sosial yang hidup oleh aktivitas pertanian dan tradisi keagamaan, melainkan juga menyimpan situs sejarah yang penting.
Warga menyebut adanya makam seorang tokoh yang dikenal sebagai Petta Bulu Matanre. Nama itu diucapkan dengan penuh hormat, seolah menyimpan jejak memori yang masih terpelihara dalam kesadaran kolektif masyarakat.
Di titik itu saya menyadari bahwa banyak desa di Sulawesi Selatan menyimpan memori sejarah yang tidak tercatat secara formal, tetapi tetap hidup melalui tradisi lisan. Sejarah di sini tidak berbentuk dokumen arsip, melainkan kisah yang mengalir dari mulut ke mulut.
Sebagian warga meyakini bahwa Petta Bulu Matanre adalah seorang penyebar Islam bernama Syekh Muhammad Ali. Dalam versi ini, ia digambarkan sebagai ulama yang datang membawa cahaya tauhid ke wilayah perbukitan tersebut, memperkenalkan ajaran Islam dengan pendekatan yang menyatu dengan adat setempat.
Dakwahnya, menurut cerita, dilakukan secara persuasif dan bertahap. Ia tidak meruntuhkan tradisi, tetapi menafsirkannya kembali dalam bingkai nilai-nilai Islam. Di sanalah terlihat bagaimana proses Islamisasi di tanah Bugis berlangsung secara kultural, bukan konfrontatif.
Namun, memori sejarah desa tidak tunggal. Ada pula yang menyebut tokoh tersebut dengan nama Lapassari. Penyebutan ini memperlihatkan adanya lapisan identitas lokal yang melekat pada figur tersebut.
Sebagian lainnya lagi menyebut nama La Pawelori. Variasi nama ini mencerminkan dinamika transmisi sejarah dalam masyarakat lisan, di mana perbedaan dialek dan jalur pewarisan cerita melahirkan ragam penyebutan.
Keragaman narasi ini bukanlah kontradiksi semata, melainkan tanda bahwa figur tersebut memiliki pengaruh mendalam. Jika satu sosok dikenang dengan beberapa nama, besar kemungkinan ia menempati posisi penting dalam kesadaran sejarah kolektif.
Fenomena ini juga membuka ruang refleksi akademik. Sejarah lisan seperti ini memerlukan pendekatan interdisipliner, menggabungkan kajian arsip, penelitian silsilah, serta telaah arkeologis atas makam, agar dapat dirumuskan secara lebih sistematis.
Lebih dari itu, situs makam tersebut adalah simpul identitas. Ia menjadi pengingat bahwa desa bukan sekadar titik administratif, melainkan ruang yang menyimpan perjalanan panjang transformasi spiritual dan sosial.
Di satu sisi, putra saya mengimami tarawih, simbol keberlanjutan tradisi Islam hari ini. Di sisi lain, makam Petta Bulu Matanre atau Syekh Muhammad Ali, Lapassari, La Pawelori, menjadi simbol jejak dakwah masa lalu.
Saya membayangkan bagaimana generasi awal desa ini menerima ajaran Islam, bagaimana nilai-nilai tauhid perlahan membentuk etos sosial, dan bagaimana transformasi itu diwariskan lintas generasi hingga kini.
Dalam konteks pembangunan modern, desa sering kali dipandang hanya dari sisi ekonomi dan infrastruktur. Padahal, modal historis dan spiritual seperti ini adalah fondasi identitas yang jauh lebih kokoh.
Kesadaran warga untuk menjaga makam dan menghormati kisah leluhur menunjukkan adanya tanggung jawab kolektif terhadap warisan sejarah. Meski belum terdokumentasi secara akademik, ingatan itu tetap dijaga dengan penuh kesetiaan.
Saya merasa perjalanan ini bukan sekadar tugas mengantar anak, tetapi perjumpaan dengan lapisan sejarah yang jarang disadari. Mattabulu mengajarkan bahwa ruang-ruang sunyi desa sering kali menyimpan gema besar peradaban.
Sejarah ternyata tidak selalu berwujud kerajaan megah atau arsip kolonial. Ia bisa hadir dalam makam sederhana, dalam cerita warga, dan dalam keyakinan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Perjalanan pulang dari Desa Mattabulu membawa kesadaran baru dalam diri saya. Bahwa antara ibadah tarawih yang kini dilantunkan dan dakwah para pendahulu yang pernah berjuang di tanah itu, terdapat benang merah spiritual yang tak terputus.
Di antara variasi nama yang hidup dalam ingatan Petta Bulu Matanre, Syekh Muhammad Ali, Lapassari, La Pawelori, tersimpan satu pesan yang sama: sejarah lokal adalah cahaya yang harus dirawat, agar generasi hari ini tidak tercerabut dari akar yang membentuk jati dirinya.
Oleh: Zaenuddin Endy
Direktur Pangadereng Institut (PADI)







