Gerakan Pemuda Ansor di Sulawesi Selatan memasuki fase penting menjelang Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) tanggal 13–15 Februari 2026 di Asrama Haji Sudiang Makassar, sebagai ajang refleksi, konsolidasi, dan proyeksi langkah strategis untuk menghadapi tantangan sosial-kultural masa depan. Momentum ini bukan sekadar seremonial organisasi, tetapi ujian kesiapan Ansor untuk memperkuat perannya sebagai motor transformasi sosial di wilayah yang kaya pluralitas namun sarat dinamika perubahan.
Sejak masa kepemimpinan Almarhum H Tonang, Ansor Sulawesi Selatan mengalami percepatan kualitas kaderisasi, perluasan jaringan komunitas, serta sinergi dengan stakeholder pendidikan, keagamaan, dan kemasyarakatan. Warisan kepemimpinan tersebut menjadi basis strategis yang harus dirawat dan dikembangkan oleh kader ansor saat ini. Tidak hanya sekadar meneruskan rencana program, tetapi menciptakan inovasi kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan kontekstual lokal.
Sulawesi Selatan dengan komposisi demografinya yang heterogen menghadirkan tantangan sekaligus peluang strategis bagi Ansor untuk memperluas dampak sosialnya. Pemahaman kultural tentang tradisi Bugis-Makassar, termasuk nilai-nilai tau sipakatau, sipakalebbi, dan siri’ na pacce, menjadi modal kuat untuk menanamkan nilai toleransi serta pencegahan ekstremisme. Di sinilah Ansor dituntut hadir tidak sebagai organisasi eksklusif, tetapi sebagai wahana dialog dan inklusi.
Potensi gerakan Ansor ke depan terletak pada kapasitasnya menguatkan pendidikan kader yang komprehensif, bukan hanya pada dimensi keagamaan, tetapi juga pada literasi digital, advokasi hak asasi, hingga keterampilan kewirausahaan. Kader yang terampil secara intelektual dan adaptif terhadap perubahan zaman akan memperluas daya jangkau organisasi dalam berbagai sektor kehidupan sosial.
Dalam konteks Muskerwil, penguatan mekanisme evaluasi kinerja program sebelumnya menjadi penting untuk merumuskan arah strategis yang realistis dan berdampak. Ini termasuk penilaian terhadap efektivitas program kebangsaan, relasi antar lembaga internal di NU, serta kontribusi Ansor dalam upaya deradikalisasi lokal. Dengan evaluasi yang sistematis, rekomendasi kebijakan program ke depan bisa lebih tajam mensinergikan sumber daya organisasi.
Masa depan Ansor juga bergantung pada kemampuan membangun kolaborasi multi-pihak, baik dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, maupun organisasi masyarakat sipil. Kolaborasi ini akan membuka ruang advokasi lebih luas, terutama dalam isu-isu yang menyentuh kesejahteraan masyarakat, seperti penanggulangan kemiskinan, pendidikan inklusif, dan respons terhadap dampak perubahan iklim di wilayah pesisir Sulawesi Selatan.
Jejak kepemimpinan Almarhum H Tonang dikenal kuat dalam membangun iklim keterbukaan dan pemberdayaan kader berbasis disiplin nilai. Semangat kepeloporan tersebut harus ditransformasikan ke dalam struktur kepemimpinan masa kini dan masa depan, dengan penekanan pada integritas, akuntabilitas, dan komitmen terhadap tujuan organisasi.
Kader Ansor yang unggul bukan sekadar mereka yang aktif secara struktural, tetapi mereka yang mampu menjadi agen perubahan di komunitas masing-masing. Oleh karena itu, Muskerwil perlu menempatkan indikator produktivitas kader tidak hanya berdasarkan kuantitas keanggotaan, tetapi pada kontribusi nyata terhadap kesejahteraan lokal dan stabilitas sosial.
Peran Ansor dalam pendidikan deradikalisasi menjadi semakin relevan mengingat gejala intoleransi yang masih mewarnai berbagai ranah kehidupan sosial di Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan. Ansor memiliki modal nilai keagamaan Ahlussunnah wal Jamaah untuk menjembatani dialog antar kelompok dan mendorong pemahaman moderat yang kontekstual.
Selain isu deradikalisasi, Ansor juga perlu mengembangkan program yang responsif terhadap tantangan generasi muda, seperti kecanduan gadget, tekanan sosial ekonomi, dan kurangnya akses terhadap pendidikan berkualitas.
Program-program inovatif yang ditawarkan harus mampu menciptakan alternatif konstruktif bagi kehidupan anak muda.
Muskerwil 2026 menjadi momentum strategis untuk merumuskan kerangka kerja penguatan lembaga dalam jangka menengah dan panjang. Ini mencakup rencana kerja, alokasi sumber daya, serta penguatan jaringan alumni yang selama ini menjadi salah satu kekuatan laten pergerakan Ansor di berbagai wilayah.
Keberlanjutan gerakan Ansor harus ditopang oleh sistem kaderisasi yang berjenjang, terukur, dan berorientasi pada dampak nyata. Modul-modul pelatihan perlu dikembangkan secara ilmiah untuk menanamkan kemampuan analisis sosial, pengambilan keputusan etis, dan kepemimpinan transformasional.
Pengembangan jejaring dengan negara di tingkat provinsi dan kabupaten juga harus menjadi bagian dari agenda utama Muskerwil. Sinergi ini bukan hanya formalitas institusional, tetapi strategi untuk memperluas akses dalam perumusan kebijakan publik yang inklusif.
Upaya pemajuan perempuan muda dalam Ansor menjadi isu penting yang tidak boleh terabaikan. Keterlibatan aktif perempuan dalam kegiatan organisasi akan memperkaya perspektif dan memperkuat kapasitas gerakan dalam menjawab persoalan sosial yang multidimensi.
Ansor Sulawesi Selatan juga memiliki peluang strategis dalam pembangunan ekonomi komunitas melalui sektor-sektor produktif berbasis nilai sosial keagamaan. Misalnya, pengembangan koperasi pemuda, UMKM berbasis budaya lokal, serta aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.
Muskerwil 2026 dapat menjadi titik awal perumusan strategi digitalisasi organisasi, termasuk pemanfaatan platform daring untuk pelatihan, koordinasi, dan kampanye sosial yang efektif. Musyawarah ini seharusnya menghasilkan roadmap digitalisasi yang operasional dan terukur.
Tantangan terbesar organisasi pemuda dewasa ini adalah bagaimana membangun budaya belajar terus-menerus yang adaptif terhadap perubahan. Ansor harus mampu menciptakan ekosistem belajar yang terbuka, kolaboratif, serta mendorong inovasi sosial di kalangan anggotanya.
Melanjutkan perjuangan H Tonang berarti menjadikan nilai-nilai strategis yang beliau pegang sebagai bagian hidup organisasi: keberanian moral, kerja kolektif, dan dedikasi tanpa pamrih kepada masyarakat luas. Nilai-nilai ini harus dikodifikasikan dalam praktik kerja sehari-hari seluruh jaringan Ansor.
Potensi besar Ansor dalam memelihara harmoni sosial di Sulawesi Selatan tidak terlepas dari kemampuannya membangun koalisi lintas komunitas agama dan etnis. Ini penting mengingat kompleksitas sosial yang memerlukan pendekatan inklusif, dialogis, dan berbasis rasa saling menghormati.
Muskerwil yang responsif harus mampu menghadirkan wacana strategis yang tidak hanya merespons isu terkini, tetapi juga memproyeksikan skenario masa depan. Ini termasuk kesiapan organisasi dalam menghadapi situasi krisis, konflik, dan pergeseran nilai di masyarakat.
Momentum Muskerwil Ansor Sulawesi Selatan 2026 di Asrama Haji Sudiang Makassar merupakan peluang emas untuk menegaskan kembali komitmen organisasi dalam tradisi kebangsaan, moderasi beragama, dan kontribusi nyata terhadap kemajuan sosial lokal. Gerakan Ansor tidak boleh hanya menjadi simbol identitas, tetapi kekuatan nyata dalam konstruksi sosial yang lebih adil dan bermartabat.
Oleh: Zaenuddin Endy
Pengurus PW Ansor Sulawesi Selatan (2012-2020)








