
Makassar, 10 Februari 2026 — Himpunan Mahasiswa Pendidikan Teknologi Informasi (HIMAPTI) Fakultas Keguruan, Ilmu Pendidikan dan Sastra (FKIPS) Universitas Islam Makassar menggelar kegiatan Education of Technology 2026 (ETIC 2026) sebagai bentuk pelatihan kader bagi mahasiswa baru angkatan 2025. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, mulai 10 hingga 13 Februari 2026, bertempat di Benteng Somba Opu, tepatnya di Rumah Adat Sinjai.
Pada hari pertama pelaksanaan, peserta menerima materi kedua bertajuk “Filosofi Pendidikan” yang dibawakan oleh Bahtera Thoriq Khoufi, Ketua Umum Senat Mahasiswa FKIPS. Materi ini menjadi salah satu sesi penting dalam membangun landasan berpikir kritis dan kesadaran ideologis calon kader HIMAPTI.
Dalam pemaparannya, Bahtera Thoriq Khoufi mengawali materi dengan menjelaskan etimologi dan terminologi kata filosofi. Ia menerangkan bahwa istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani, yakni philo yang berarti cinta dan sophia yang berarti kebijaksanaan.
“Filosofi secara sederhana dapat dimaknai sebagai cinta terhadap kebijaksanaan. Namun dalam konteks akademik, filosofi adalah upaya berpikir secara mendalam, radikal, dan sistematis untuk mencari hakikat suatu kebenaran,” ujarnya di hadapan peserta ETIC 2026.
Selanjutnya, ia menjelaskan tiga cabang utama filsafat, yaitu ontologi (membahas tentang hakikat keberadaan), epistemologi (membahas tentang sumber dan cara memperoleh pengetahuan), serta aksiologi (membahas tentang nilai dan kegunaan ilmu pengetahuan).
Tidak hanya membahas filsafat secara umum, Bahtera juga menguraikan definisi pendidikan. Ia menjelaskan bahwa secara umum pendidikan adalah proses pembinaan sikap dan perilaku seseorang melalui pengajaran dan pelatihan. Ia turut mengutip definisi resmi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang menyebutkan bahwa pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Dalam sesi berikutnya, ia menyinggung konsep banking education atau pendidikan gaya bank yang dikritik keras oleh tokoh pendidikan asal Brasil, Paulo Freire. Menurutnya, model pendidikan ini memposisikan peserta didik sebagai “rekening kosong” yang hanya menerima dan menyimpan informasi dari guru.
“Jika pendidikan hanya menjadikan mahasiswa sebagai wadah pasif, maka yang lahir bukanlah manusia merdeka, melainkan individu yang terkungkung. Pendidikan harus membebaskan, bukan membungkam,” tegas Bahtera.
Ia juga menjelaskan perbedaan antara pedagogi, andragogi, dan heutagogi. Pedagogi merupakan pendekatan pendidikan yang berfokus pada anak-anak, andragogi berorientasi pada pembelajaran orang dewasa, sedangkan heutagogi menekankan pada pembelajaran mandiri yang berpusat pada peserta didik.
Dalam bagian akhir materinya, Bahtera memaparkan secara singkat sosok Ki Hajar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan nasional Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Ki Hajar Dewantara memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, mendirikan Perguruan Taman Siswa, dan pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia yang pertama.
Ia juga menegaskan tiga pilar utama pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai pusat pendidikan. Selain itu, ia menyinggung semboyan pendidikan yang diwariskan Ki Hajar Dewantara.
“Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani bukan sekadar semboyan. Itu adalah ruh pendidikan Indonesia. Seorang pendidik harus mampu menjadi teladan di depan, membangun semangat di tengah, dan memberikan dorongan dari belakang,” tutupnya.
Materi Filosofi Pendidikan ini disambut antusias oleh para peserta ETIC 2026. Kegiatan ini diharapkan mampu membentuk kader HIMAPTI yang tidak hanya cakap secara teknis di bidang teknologi informasi, tetapi juga memiliki landasan pemikiran yang kuat tentang hakikat pendidikan sebagai proses pembebasan dan pemanusiaan manusia.
Dituliskan di
PELATIHAN ETIC 2026 – HIMAPTI FKIPS UIM 2026







