Pemilihan Rektor IAIN Bone periode 2026–2030 merupakan momentum strategis untuk menentukan arah masa depan perguruan tinggi Islam ini. Di tengah tantangan transformasi pendidikan tinggi, penguatan riset, dan relevansi sosial-keagamaan, figur rektor yang memiliki kapasitas akademik sekaligus kepemimpinan praksis menjadi kebutuhan mendesak.
Salah satu sosok yang menonjol dan layak dipertimbangkan adalah Dr. Rahmatunnair, M.Ag.
Rekam jejak akademik yang solid, pengalaman organisasi yang panjang, serta keterlibatan nyata dalam pemberdayaan masyarakat menjadikan beliau kandidat yang memenuhi prasyarat kepemimpinan transformatif.
Sebagai akademisi, Dr. Rahmatunnair dikenal konsisten mengembangkan tradisi keilmuan yang kritis dan berakar pada nilai-nilai Islam dan budaya lokal. Ia tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menerjemahkannya ke dalam kebijakan dan praktik pendidikan yang berorientasi pada mutu dan kemanfaatan.
Kiprah beliau sebagai aktivis pemberdayaan masyarakat menegaskan komitmen sosial yang kuat. Berbagai program pendampingan yang digagas dan dijalankan menunjukkan kepekaan terhadap problem riil umat, sekaligus kemampuan merancang solusi berbasis kolaborasi dan keberlanjutan.
Banyak kader berkualitas lahir dari tempaan kepemimpinan Dr. Rahmatunnair. Ia dikenal sebagai mentor yang mendorong kemandirian berpikir, integritas personal, dan etos kerja kolektif—tiga pilar penting dalam membangun sumber daya manusia unggul di lingkungan akademik.
Pengalaman beliau memimpin dan mengelola organisasi kemahasiswaan seperti PMII memperlihatkan kapasitas manajerial yang matang. Di ruang ini, beliau mengasah kemampuan merawat kaderisasi, memperkuat tata kelola, dan menjaga kesinambungan program.
Tidak berhenti di situ, keterlibatan Dr. Rahmatunnair dalam mendirikan dan membina LSM menjadi bukti lain kepiawaian beliau dalam membangun organisasi dari nol hingga berdaya guna. Kemampuan mengorkestrasi tim lintas latar belakang menjadi nilai tambah yang krusial.
Bukti nyata keberhasilan kepemimpinan juga tampak pada dinamika PCNU Bone saat ini. Tata kelola yang lebih rapi, program yang terukur, dan peningkatan partisipasi warga menunjukkan kepemimpinan yang berorientasi pada hasil tanpa meninggalkan nilai-nilai Aswaja.
Pengalaman lintas sektor tersebut membentuk perspektif kepemimpinan yang utuh. Dr. Rahmatunnair memahami dunia akademik, gerakan sosial, dan organisasi keagamaan secara seimbang—sebuah kombinasi ideal untuk memimpin IAIN Bone.
Dalam konteks penguatan kelembagaan, IAIN Bone membutuhkan rektor yang mampu menyatukan visi civitas akademika. Dr. Rahmatunnair dikenal inklusif, dialogis, dan mampu membangun kepercayaan lintas fakultas serta unit kerja.
Tantangan peningkatan mutu tridarma perguruan tinggi menuntut kepemimpinan yang berbasis data dan perencanaan strategis. Pengalaman organisasi Dr. Rahmatunnair menunjukkan kedisiplinan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program.
Selain itu, jejaring nasional dan regional yang dimiliki menjadi modal penting untuk memperluas kolaborasi riset, pengabdian masyarakat, serta penguatan reputasi institusi. IAIN Bone membutuhkan akses dan kemitraan yang luas untuk melompat lebih jauh.
Dalam isu tata kelola, integritas dan keteladanan adalah kunci. Dr. Rahmatunnair dikenal konsisten menjaga etika, transparansi, dan akuntabilitas—nilai yang harus menjadi fondasi kepemimpinan perguruan tinggi.
Kepekaan terhadap dinamika lokal Bone juga menjadi keunggulan tersendiri. Kepemimpinan yang memahami konteks sosial-budaya akan lebih efektif dalam merancang program pengabdian yang relevan dan berdampak.
IAIN Bone tidak hanya membutuhkan manajer kampus, tetapi pemimpin akademik yang menginspirasi. Dr. Rahmatunnair memiliki kapasitas simbolik untuk menjadi teladan bagi dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.
Transformasi digital dan tuntutan inovasi pembelajaran menuntut keberanian mengambil keputusan. Rekam jejak beliau menunjukkan kemampuan adaptif dan keterbukaan terhadap perubahan, tanpa tercerabut dari nilai dasar institusi.
Kepemimpinan yang menguatkan budaya riset juga menjadi kebutuhan mendesak. Dengan latar akademik yang kuat, Dr. Rahmatunnair berpeluang mendorong peningkatan produktivitas ilmiah dan kualitas publikasi.
Dalam penguatan karakter mahasiswa, pendekatan kaderisasi yang humanis dan berorientasi nilai menjadi keunggulan. Pengalaman panjang mendampingi kader menjadi bekal penting membangun iklim kampus yang berkarakter.
Melihat keseluruhan rekam jejak tersebut, Dr. Rahmatunnair hadir sebagai figur yang lengkap: akademisi, organisator, dan penggerak masyarakat. Kombinasi ini jarang dimiliki, namun sangat dibutuhkan.
Oleh karena itu, jika IAIN Bone ingin berkembang lebih maju, berkualitas, dan berdaya saing, maka kepemimpinan yang transformatif adalah jawabannya. Dr. Rahmatunnair, M.Ag, dengan segala kapasitas dan pengalamannya, layak dipercaya memimpin IAIN Bone periode 2026–2030.
Pemilihan rektor sejatinya adalah pilihan arah. Memilih Dr. Rahmatunnair berarti memilih masa depan IAIN Bone yang berakar pada nilai, berorientasi mutu, dan berpihak pada kemajuan umat serta bangsa.
Penulis Oleh: Zaenuddin Endy
Direktur Pangadereng Institute (PADI)







