PMII Gowa Serukan Interupsi Rezim Panggilan Moral Mahasiswa Melawan Lupa dan Diam

PC PMII Gowa Menggelar Aksi Demonstrasi di jalan Sultan Alauddin Kota Makassar.
banner 468x60

Aseranews.com, MAKASSAR — Dalam semangat memperingati Hari Sumpah Pemuda, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Gowa menyerukan aksi bertajuk “Interupsi Rezim” sebagai bentuk refleksi kritis atas arah perjalanan demokrasi di Indonesia, Selasa 28/10/2025.

 

Gerakan ini tidak dimaksudkan sebagai perlawanan destruktif terhadap negara, melainkan panggilan moral dan ideologis untuk mengingatkan bahwa kekuasaan sejatinya adalah amanah yang harus dijalankan dengan keadilan.

 

“Kami tidak sedang melawan negara, tetapi mengingatkan penguasa bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan alat memperkaya diri. Interupsi Rezim adalah suara nurani yang menolak diam di tengah ketidakadilan,” tegas Abdullah Ketua PMII Gowa saat membacakan pernyataan sikap di hadapan massa aksi.

 

Tuntutan dan Isu Gerakan Dalam dokumen resmi yang dirilis PMII Gowa, terdapat sepuluh tuntutan utama yang menjadi fokus gerakan, di antaranya:

 

– Penghentian program MBG secara total;

– Reformasi hukum dan penegakan HAM;

– Penghentian komersialisasi pendidikan dan kesejahteraan tenaga pendidik;

– Pemenuhan hak-hak buruh dan evaluasi kabinet;

– Transparansi investasi asing dan penegakan hukum terhadap mafia tanah.

 

PMII Gowa menilai bahwa berbagai kebijakan pemerintah akhir-akhir ini telah menjauh dari nilai-nilai keadilan sosial dan moralitas publik, sehingga perlu adanya interupsi moral dari gerakan mahasiswa.

 

Sementara itu, Irwanto Jenderal Lapangan Aksi “Interupsi Rezim” menegaskan bahwa gerakan ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap situasi bangsa yang kian menindas rakyat kecil.

 

“Kami turun ke jalan bukan untuk mencari panggung, tetapi untuk menyuarakan jeritan rakyat yang tidak terdengar di ruang kekuasaan. Jika mahasiswa diam, maka siapa lagi yang akan bersuara?” ujarnya lantang di tengah barisan aksi.

 

Ia menambahkan bahwa gerakan ini akan terus dikawal hingga tuntutan rakyat mendapatkan perhatian serius dari pengambil kebijakan.

“Kami akan terus bergerak dengan kepala tegak, tanpa takut ditekan. Sebab diam di tengah ketidakadilan sama halnya dengan mengkhianati kemanusiaan,” tutupnya.

 

Aksi Interupsi Rezim menjadi pengingat bahwa mahasiswa bukan sekadar penonton dalam panggung kekuasaan, tetapi penafsir nurani bangsa yang menolak tunduk pada ketidakadilan.

 

Dalam sunyi demokrasi yang kerap dibungkam oleh kepentingan, PMII Gowa kembali menyalakan obor perlawanan moral — menggaungkan pesan bahwa keadilan sosial hanyalah utopia tanpa keberanian untuk menginterupsi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *